31 Perusahaan AS Lirik Investasi di Indonesia, Peluang Perkuat Industri Nasional
JAKARTA — Indonesia tetap menjadi tujuan investasi yang menarik bagi dunia usaha Amerika Serikat. Hal ini tercermin dari kunjungan delegasi 31 perusahaan AS yang tergabung dalam US-ASEAN Business Council (US-ABC) Mission to Indonesia 2026, dalam pertemuan bersama jajaran Kementerian Keuangan RI di Jakarta, Selasa (27/10/2026).
Delegasi yang dipimpin Duta Besar Brian McFeeters tersebut diterima Menteri Keuangan Suahasil Nazara, didampingi Wakil Menteri Keuangan Juda Agung dan jajaran pejabat Kementerian Keuangan. Sejumlah perusahaan besar turut dalam delegasi, di antaranya Boeing, ExxonMobil, Citi, Visa, Mastercard, Google, IBM, Meta, Oracle, Netflix, dan PepsiCo. Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo, juga hadir dalam pertemuan strategis tersebut.
Dalam kesempatan itu, Indroyono menyoroti sejumlah isu yang menjadi perhatian kalangan pengusaha Amerika Serikat, mulai dari perkembangan revisi Undang-Undang Hak Cipta dan Undang-Undang Minyak dan Gas Bumi, pengembangan industri semikonduktor, hingga peluang Indonesia memperkuat keterlibatan dalam rantai pasok global.
“Indonesia memiliki modal strategis untuk menjadi bagian penting dalam rantai pasok global, mulai dari kekayaan sumber daya alam, pasar domestik yang besar, hingga posisi geografis yang strategis di kawasan Indo-Pasifik. Peluang ini perlu dimanfaatkan untuk mendorong investasi yang tidak hanya menjadikan Indonesia sebagai pasar, tetapi juga sebagai mitra produksi dan inovasi,” demikian pesan yang relevan dengan isu-isu strategis yang dibahas dalam pertemuan tersebut.
Menteri Keuangan Suahasil Nazara memaparkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kokoh, dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,45 persen pada semester I-2026, inflasi terkendali, serta kinerja APBN yang terjaga di tengah dinamika global.
Pemerintah juga membuka peluang investasi di berbagai sektor prioritas, termasuk swasembada pangan, swasembada energi, hilirisasi industri, pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence), pembangunan pusat data, serta teknologi dan layanan kesehatan. Transformasi digital melalui sistem perpajakan Coretax turut menjadi perhatian dalam upaya meningkatkan efisiensi administrasi dan kemudahan berusaha.
Bagi Indonesia, ketertarikan perusahaan-perusahaan besar Amerika Serikat menjadi peluang untuk memperkuat diplomasi ekonomi sekaligus mendorong investasi berkualitas. Kepastian regulasi, konsistensi kebijakan, dan kemudahan perizinan menjadi faktor penting agar minat investasi dapat berlanjut menjadi realisasi usaha yang memberikan manfaat bagi perekonomian nasional.
Berdasarkan data dalam bahan siaran pers, investasi Amerika Serikat di Indonesia pada triwulan I–III 2026 mencapai 3,4 miliar dolar AS, meningkat dibandingkan sekitar 3 miliar dolar AS pada 2025.
Pertemuan tersebut diharapkan menjadi langkah konkret dalam memperkuat kemitraan ekonomi Indonesia–Amerika Serikat. Lebih dari sekadar nilai investasi, kerja sama kedua negara diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja, memperkuat industri nasional, mendorong transfer teknologi, mempercepat hilirisasi, dan memperluas peran Indonesia dalam rantai produksi global.
