Ekonomi & BisnisInternasionalNasionalPariwisataPolitik

KRIYASI Ekraf Peduli di Binjai Dorong Kriya Sulam dan Anyam Jadi Penggerak Pemulihan Ekonomi

BINJAI, SUMATERA UTARA — Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia melalui Direktorat Kriya terus mendorong penguatan ekosistem ekonomi kreatif di daerah sebagai bagian dari upaya pemulihan masyarakat pascabencana. Komitmen tersebut diwujudkan melalui program Akselerasi Produk Kriya (KRIYASI) Ekraf Peduli Sulam dan Anyam Tahun 2026 yang digelar di Kota Binjai, Sumatera Utara, pada 15–17 September 2026 di Café Tropicollo.

Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari rangkaian KRIYASI yang telah dilaksanakan pada 26–27 Agustus 2026. KRIYASI Ekraf Peduli menjadi bagian dari dukungan Kementerian Ekonomi Kreatif dalam Program Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (PRRP) Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

PRRP merupakan instruksi Presiden Prabowo untuk memastikan masyarakat terdampak bencana tidak hanya kembali pulih, tetapi juga dapat bangkit dan membangun kehidupan yang lebih tangguh. Dalam kerangka tersebut, Ekraf Peduli mengusung semangat “Pulih Bersama, Bangkit Berdaya”, dengan menempatkan ekonomi kreatif sebagai salah satu bagian dari upaya pemulihan penghidupan, penguatan ekonomi lokal, sekaligus membuka sumber pertumbuhan baru berbasis potensi kreatif daerah.

Di Kota Binjai, KRIYASI berfokus pada dua subsektor kriya, yaitu sulam dan anyam. Para peserta mendapatkan penguatan kapasitas melalui workshop dan pendampingan yang diarahkan pada peningkatan kualitas, desain, teknik, serta nilai tambah produk agar semakin adaptif terhadap kebutuhan pasar.

Pengembangan subsektor anyam antara lain diarahkan pada produk home décor, dengan mengeksplorasi bentuk dan desain. Salah satu produk yang dikembangkan adalah kap lampu anyam yang diharapkan memiliki nilai tambah sekaligus peluang untuk dikembangkan sebagai produk dekorasi rumah.

Selain itu, dilakukan pula eksplorasi pewarnaan alam sebagai bagian dari pengembangan material dan karakter produk. Sementara pada subsektor sulam, peserta mendapatkan penguatan teknik dengan mengembangkan motif yang terinspirasi dari kekhasan Kota Binjai.

Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif RI, Yuke Sri Rahayu, menekankan bahwa pengembangan subsektor kriya, khususnya sulam dan anyam, tidak cukup hanya berhenti pada pendampingan. Menurutnya, yang lebih penting adalah membangun ekosistem ekonomi kreatif yang memungkinkan para pelaku terus berkembang dan memperoleh manfaat secara berkelanjutan.

“Subsektor kriya, khususnya sulam dan anyam, perlu diperkuat ekosistem ekonomi kreatifnya. Keberlanjutan program membutuhkan kolaborasi hexahelix bersama pemerintah daerah, sehingga hasil pendampingan dapat terus dikembangkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Yuke.

Yuke juga menekankan pentingnya peran Pemerintah Kota Binjai dalam menindaklanjuti sekaligus memonitor 50 talenta yang telah mendapatkan pendampingan melalui KRIYASI Sulam dan Anyam. Pemantauan setelah pendampingan dinilai penting agar kemampuan yang telah diperoleh peserta dapat terus berkembang menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan peluang pasar.

“Pemerintah daerah memiliki peran penting untuk memastikan 50 talenta yang sudah mendapatkan pendampingan ini terus mendapatkan ruang untuk berkembang. Karena itu, tindak lanjut dan monitoring menjadi bagian penting agar program ini tidak berhenti setelah kegiatan selesai,” kata Yuke.

Ia menambahkan, kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku usaha, komunitas, akademisi, media, dan unsur terkait lainnya menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kota Binjai, Zulfan, ST, MM, yang mewakili Wali Kota Binjai, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif RI atas perhatian dan dukungan yang diberikan kepada Kota Binjai melalui program KRIYASI Ekraf Peduli.

“Kami dari Pemerintah Kota Binjai sangat berterima kasih yang sebesar-besarnya kepada Kementerian Ekonomi Kreatif yang telah memberikan pendampingan dan juga anggaran yang dikhususkan kepada Kota Binjai. Kami sangat berterima kasih. Bapak Wali Kota Binjai juga berpesan semoga semua yang diajarkan oleh Kementerian Ekonomi Kreatif dapat bermanfaat bagi kemajuan ekosistem ekonomi kreatif di Kota Binjai,” ujar Zulfan.

Menurut Zulfan, Pemerintah Kota Binjai berkomitmen menjaga keberlanjutan program tersebut agar manfaat pendampingan tidak berhenti setelah kegiatan selesai. Ia berharap program serupa dapat terus dikembangkan sehingga tidak hanya memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat, tetapi juga ikut mendorong pertumbuhan ekonomi Kota Binjai.

“Pemerintah Kota Binjai berkomitmen akan terus menjaga keberlanjutan kegiatan ini sehingga pendampingan ini dapat berguna, bukan hanya untuk menambah dari segi ekonomi bagi masyarakatnya, tetapi juga menumbuhkan ekonomi bagi Kota Binjai sendiri. Kami sangat mengharapkan dari Kementerian Ekonomi Kreatif terus memberikan pendampingan ini secara berkelanjutan, karena ekosistem ini harus kita bangun, bukan hanya pendampingan saja, tetapi aspek lainnya juga kami harapkan mendapat perhatian terus,” katanya.

Kegiatan KRIYASI di Kota Binjai menghadirkan sejumlah pejabat dan narasumber, antara lain Direktur Kriya Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif RI Neli Yana, perwakilan Dinas Koperasi dan UMKM Kota Binjai, serta Edi Eskak dan Tio Yudha dari Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik sebagai narasumber bidang anyam.

Untuk pengembangan bidang sulam, kegiatan menghadirkan Nuri Fatimah dan Fariz Al Hazmi dari Rumpun Consulting. Para narasumber memberikan penguatan terkait desain, teknik pengolahan, material, hingga pengembangan produk agar lebih memiliki nilai tambah dan sesuai dengan kebutuhan pasar.

Bagi para peserta, KRIYASI tidak hanya menjadi ruang untuk memperoleh keterampilan baru, tetapi juga membuka kesempatan untuk mengembangkan produk kriya yang bersumber dari potensi dan karakter lokal Kota Binjai.

Salah satu peserta KRIYASI dari Kota Binjai, Gunawan, menyambut positif pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, pendampingan yang diberikan membuka perspektif baru bagi peserta untuk melihat kriya bukan sekadar aktivitas kreatif, tetapi juga sebagai peluang ekonomi yang dapat dikembangkan secara serius.

“Kegiatan ini sangat positif dan memberikan banyak pengetahuan baru bagi kami. Kami jadi lebih memahami bagaimana mengembangkan produk agar memiliki nilai tambah dan bisa mengikuti kebutuhan pasar. Saya optimistis setelah pendampingan ini kami bisa terus berkreasi dan mengembangkan apa yang sudah dipelajari, sehingga ke depan produk kriya dari Binjai semakin dikenal dan mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujar Gunawan.

Melalui KRIYASI Ekraf Peduli, Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif berharap pengembangan kriya sulam dan anyam di Kota Binjai dapat berlanjut melalui ekosistem yang kuat dan kolaborasi bersama pemerintah daerah. Dengan dukungan dan pendampingan yang berkelanjutan, 50 talenta yang telah mengikuti pendampingan diharapkan mampu terus mengembangkan kreativitas, meningkatkan kualitas produk, serta menciptakan nilai ekonomi dari potensi kriya yang dimiliki daerah.

Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari semangat “Pulih Bersama, Bangkit Berdaya”, bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya berbicara mengenai pembangunan kembali, tetapi juga tentang membuka ruang bagi masyarakat untuk bangkit melalui potensi dan kekuatan yang mereka miliki.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *