Bang Azran : Budaya Betawi Harus Menjadi Instrumen Perubahan dan Kemajuan
JAKARTA— Anggota DPD RI/MPR RI Daerah Pemilihan DKI Jakarta yang juga Ketua FORKABI, Achmad Azran, menegaskan bahwa budaya Betawi tidak boleh hanya dipahami sebagai simbol tradisi, melainkan harus menjadi instrumen perubahan yang mampu menjawab berbagai tantangan masyarakat di era modern.
Menurut Azran, setiap organisasi berbasis budaya memiliki tanggung jawab untuk menjaga warisan leluhur sekaligus menghadirkan solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat saat ini.
“Budaya tidak cukup hanya dirawat sebagai kenangan. Budaya harus bekerja, memberi manfaat, dan menjadi kekuatan yang mampu menjawab tantangan zaman. Di situlah relevansi organisasi budaya seperti FORKABI diuji,” kata pria yang juga biasa disapa Bang Azran.
Ia menjelaskan bahwa di tengah laju perubahan Jakarta yang sangat cepat, masyarakat Betawi membutuhkan ruang yang tidak hanya menjaga identitas, tetapi juga memperkuat posisi mereka sebagai bagian penting dari masa depan ibu kota.
“FORKABI hadir sebagai rumah besar masyarakat Betawi, sebagai kanal aspirasi, representasi, sekaligus benteng identitas. Namun tugas itu tidak cukup hanya dengan menjaga tradisi. Kita juga harus memastikan masyarakat Betawi mampu beradaptasi dan berkembang di tengah perubahan,” ujarnya.
Azran menilai tantangan organisasi masyarakat saat ini semakin kompleks. Selain harus mampu menjangkau generasi muda, organisasi juga dituntut menerapkan tata kelola yang profesional, transparan, dan akuntabel.
“Generasi muda hari ini tidak lagi menilai organisasi dari panjangnya sejarah, tetapi dari manfaat yang nyata. Karena itu organisasi harus relevan, terbuka, dan mampu menjawab kebutuhan anggotanya,” tuturnya.
Ia menegaskan bahwa nilai-nilai utama budaya Betawi seperti keterbukaan, silaturahmi, gotong royong, dan kemampuan beradaptasi merupakan modal sosial yang sangat penting untuk menjawab tantangan masa kini.
“Gotong royong hari ini tidak hanya diwujudkan dalam kerja bakti, tetapi juga melalui sistem kerja organisasi yang efektif dan pelayanan yang cepat. Begitu pula keterbukaan harus diwujudkan dalam transparansi pengelolaan organisasi yang dapat dipertanggungjawabkan,” kata Azran.
Dalam pandangannya, masa depan budaya Betawi sangat bergantung pada keterlibatan generasi muda. Oleh sebab itu, organisasi budaya harus mampu hadir di ruang-ruang yang dekat dengan kehidupan anak muda, termasuk dunia digital dan ekonomi kreatif.
“Kita membutuhkan generasi muda yang bukan hanya bangga menjadi orang Betawi, tetapi mampu membuktikan bahwa menjadi Betawi adalah instrumen untuk maju, berprestasi, dan berdaya saing,” ujarnya.
Azran juga mendorong agar pelestarian budaya tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan seremonial, tetapi menjadi gerakan yang hidup melalui pendidikan, pemberdayaan ekonomi, pengembangan kreativitas, serta pemanfaatan teknologi digital.
Menurutnya, organisasi budaya juga harus berkontribusi dalam menjawab berbagai persoalan sosial perkotaan, mulai dari lingkungan hidup, literasi, hingga penyebaran disinformasi di ruang digital.
“Semangat gotong royong Betawi harus hadir dalam berbagai persoalan masyarakat. Dengan begitu budaya tidak hanya dirayakan, tetapi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga,” katanya.
Menutup pernyataannya, Azran menegaskan bahwa budaya dan tata kelola organisasi bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan saling menguatkan.
“Ketika nilai gotong royong berubah menjadi sistem kerja yang efisien, ketika keterbukaan berubah menjadi transparansi yang dapat dipercaya, dan ketika keberanian berubah menjadi keberanian melakukan perubahan, maka budaya Betawi akan terus hidup sebagai kekuatan yang membawa kemajuan tanpa kehilangan akarnya,” pungkas Azran.(*)
