Tembang Perkasa Ksatria Amarta — Suluk Sufistik Ki Dalang Wawan Ajen
Bekasi — Pertunjukan Wayang Ajen Diversity diap mengguncang jagat seni, Sabtu (30/8/2025), di Plaza GOR Candrabhaga, Kota Bekasi. Atraksi spekatakuler ini akan mengangkat Lakon Tembang Perkasa Ksatria Amarta karya dan garapan Ki Dalang Wawan Ajen.
Lakon Tembang Perkasa Ksatria Amarta bukan sekadar tontonan budaya, melainkan suluk sufistik yang memantulkan wajah zaman, menyingkap luka negeri, dan menyalakan kembali api kesadaran.
Dengan lakon ini, Wayang Ajen tidak hanya menjaga warisan budaya Nusantara, tetapi juga mengusung suara nurani rakyat. Ia menjadi diplomasi budaya yang lantang menegur penguasa, menggugat logika bengkok, dan menyelamatkan bangsa dari gelapnya angkara.
Di tangan Ki Dalang Wawan Ajen, seni menjelma bahasa perlawanan, puisi menjadi pedang, dan dakwah menjadi cahaya.
Dalam naskah, tertulis pertunjukan akan dibuka dengan Murwasuci.
“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Cahaya, Maha Menghidupkan segala makhluk, Maha Menggenggam langit dan bumi.”
Suara Ki Dalang dalam suluknya diolah menggema bagai dzikir yang menembus langit. Denting suaranya tidak hanya menggetarkan hati penonton, tetapi juga menegaskan jika panggung Wayang Ajen adalah panggung renungan, panggung muhasabah, panggung ruhani bangsa.
Kisah dimulai ketika Bima bercerita tentang mimpi buruk negeri Amarta diterjang angin puting beliung. Prabu Yudistira, Arjuna, Nakula, Sadewa, dan Semar merenung dalam keprihatinan, sembari tetap eling dan waspada.
Di balik gulita, tampil Raja Kalamurka, penguasa Goa Siluman, yang menjadi tangan busuk Duryudana Raja Astina yang serakah. Ia melepaskan teror melalui pasukan siluman Assubabilung, jin Babigembrot Sitartaisia, dan raksesi licik Nini Begung Oondancrot. Mereka merusak tatanan, menebar ketakutan, menjerumuskan rakyat Amarta ke dalam duka nestapa.
Potret itu tak ubahnya cermin negeri hari ini. Saat hukum dipermainkan, saat kursi kekuasaan dipenuhi wajah-wajah yang kehilangan nurani, saat rakyat menangis tetapi pejabat tertawa di balik jeruji pasal buatan sendiri.
Koruptor dibela, rakyat jelata dipenjara. Logika bengkok yang terhormat menjadi bahan olok-olok publik. Bencana alam datang silih berganti, tetapi yang lebih parah adalah bencana akhlak para pemimpin dan tuan terhormat.
Namun, sebagaimana hukum Ilahi, cahaya tidak pernah padam.
Hadirlah Prabu Kresna, sang pemimpin bijaksana, menuntun Pandawa bersama Kyai Semar. Yudistira sang raja adil, Bima ksatria perkasa yang jujur, Arjuna pemanah jitu yang cerdas,
Nakula dan Sadewa yang setia dan taat, Gatotkaca, Anterja, hingga Jakatawan yang gagah berani. Mereka bersatu, menegakkan darma, melawan adarma. Pandawa memayu hayuning bawana.
Alloh mengingatkan dalam firman-Nya:
“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi setelah Alloh memperbaikinya, dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Alloh amat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.”
(QS. Al-A’raf: 56)
Pertempuran besar pun meletus. Cahaya kebenaran memecah gulita. Kalamurka dan pasukannya hancur lebur, terbakar oleh api darma.
Firman Alloh menegaskan:
“Kebenaran telah datang, dan kebatilan itu pasti lenyap. Sesungguhnya kebatilan itu pasti akan lenyap.”
(QS. Al-Isra’: 81)
Lakon ini bukan sekadar cerita klasik. Ia adalah seruan perang sabil ruhani: jihad melawan nafsu dan kerakusan, jihad melawan angkara murka yang kini menjelma korupsi, kolusi, dan manipulasi hukum, jihad menegakkan darma di tengah bangsa yang rawan tergelincir.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Seorang mujahid sejati adalah dia yang berjihad melawan hawa nafsunya di jalan Alloh.”
(HR. Ahmad)
Pesan Moral untuk Negeri
Lakon Tembang Perkasa Ksatria Amarta adalah tembang kemenangan kebajikan atas kejahatan. Pesannya jelas dan abadi: persatuan, keberanian, dan ketulusan adalah cahaya yang tak pernah padam.
Sebagaimana pitutur luhur: ” Sabedas-bedasna angkaramurka awal.ahir bakal lumpuh ku daya palamarta.
“Suradira jayaningrat, lebur dening pangastuti.”
Segala angkara murka, meski setajam pedang kuasa, akhirnya luluh oleh kekuatan kebajikan.
Alloh pun meneguhkan janji-Nya:
“Janganlah kamu menjadi lemah dan janganlah bersedih hati, padahal kamulah yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman.”
(QS. Ali Imran: 139)
Saksikan pertunjukan spektakuler
Semarak Wayang Ajen Diversity
Dalam rangka Pesona Nusantara Bekasi Keren 2025.
Sabtu, 30 Agustus 2025, pkl.20.00 – selesai, di Plaza Gor Candrabhaga, Kota Bekasi.
