Indonesia Living Heritage 2027, Misi Kebudayaan Indonesia Menembus Jantung Amerika Serikat
JAKARTA — Indonesia akan kembali membawa kekayaan budaya Nusantara ke panggung dunia melalui pameran Indonesia Living Heritage 2027 yang direncanakan berlangsung di Washington DC, Amerika Serikat, pada 2027 mendatang. Pameran ini tidak sekadar menjadi ajang memperkenalkan karya seni Indonesia, tetapi dirancang sebagai bagian dari misi diplomasi budaya untuk memperkuat posisi Indonesia di tengah pergaulan peradaban global.
Rencana penyelenggaraan pameran tersebut mengemuka dalam pertemuan Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon dengan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat Indroyono Soesilo dan perwakilan Yayasan Fortuga, perkumpulan alumni ITB angkatan 1973, di Jakarta, Selasa (1/9/2026). Pameran direncanakan berlangsung di dua institusi bergengsi, yakni Smithsonian Institution dan Textile Museum di George Washington University.
Duta Besar RI untuk Amerika Serikat Indroyono Soesilo menilai rencana tersebut merupakan momentum penting untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia secara lebih luas kepada masyarakat Amerika Serikat dan komunitas internasional.
«“Kami melihat Indonesia Living Heritage 2027 sebagai momentum penting untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat Amerika Serikat dan komunitas internasional. Budaya adalah jembatan yang mampu mempererat hubungan antarmasyarakat dan membangun pemahaman yang lebih baik antara kedua negara. Kami berharap pameran ini dapat menjadi langkah berkelanjutan dalam memperkuat diplomasi budaya Indonesia di tingkat global.”»
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyambut baik rencana tersebut. Didampingi Dirjen Diplomasi, Promosi dan Kerja Sama Kebudayaan Endah Retno Astuti, Fadli menilai kehadiran kembali kebudayaan Indonesia dalam skala besar di Amerika Serikat merupakan langkah strategis sekaligus wujud pelaksanaan amanat konstitusi.
Dukungan tersebut berpijak pada amanat Pasal 32 UUD 1945 yang menegaskan bahwa negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia, dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.
Konsep Indonesia Living Heritage 2027 akan mengangkat tiga kekuatan utama seni rupa Indonesia, yakni wastra tenun, seni patung kontemporer, dan seni lukis. Ketiganya akan dikurasi oleh tokoh-tokoh yang memiliki rekam jejak kuat dalam pelestarian dan pengembangan seni budaya Indonesia.
Untuk sektor wastra tenun, kurasi akan dilakukan Myra Widiono. Sejumlah karya unggulan dari Nusa Tenggara Timur akan menjadi bagian dari pameran, sekaligus memperlihatkan kekayaan motif dan teknik tenun ikat Nusantara.
Sementara itu, seni patung kontemporer akan dikurasi pematung Nyoman Nuarta. Sebagian karya yang direncanakan dibawa ke Amerika Serikat berasal dari koleksi Museum Nu Art di Bandung, yang dikenal melalui karya-karya berskala monumental dan memiliki karakter artistik kuat.
Adapun sektor seni lukis akan dikurasi Putu Rudana, pengelola Museum Seni Rudana di Ubud, Bali. Karya-karya yang ditampilkan akan merepresentasikan kekayaan visual seni lukis Nusantara dengan karakter warna yang cerah dan meriah, sekaligus menggambarkan dinamika kehidupan masyarakat Indonesia.
Pameran ini memiliki arti penting karena Indonesia terakhir kali menghadirkan kegiatan kebudayaan berskala besar di Amerika Serikat melalui Kegiatan Kebudayaan Indonesia di Amerika Serikat (KIAS) pada 1991. Setelah lebih dari tiga dekade, Indonesia Living Heritage 2027 diharapkan menjadi momentum untuk menghadirkan kembali kebudayaan Indonesia secara lebih kuat, terkurasi, dan berkelanjutan di ruang budaya internasional.
Kementerian Kebudayaan RI sendiri telah memiliki kerja sama dengan Smithsonian Institution, termasuk dalam pengelolaan dan promosi museum di era digital. Namun, belum terdapat pameran kebudayaan Indonesia dalam skala seperti KIAS 1991. Karena itu, Indonesia Living Heritage 2027 diharapkan dapat mengembangkan hubungan dan akses yang telah terbangun menjadi program budaya Indonesia yang lebih kuat dan berdampak luas.
Konsep living heritage menjadi salah satu kekuatan utama pameran ini. Budaya Indonesia tidak ditempatkan semata-mata sebagai benda koleksi masa lalu, tetapi sebagai warisan yang hidup, dinamis, terus berkembang, dan tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Karena itu, Indonesia Living Heritage 2027 diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah pameran, melainkan berkembang menjadi misi kebudayaan Indonesia yang berkelanjutan. Kehadiran karya-karya budaya Nusantara di Washington DC diharapkan membuka ruang dialog yang lebih luas antara Indonesia dengan masyarakat Amerika Serikat dan komunitas internasional.
Selain diplomasi budaya, pameran ini juga membawa kepentingan strategis bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Pengenalan karya budaya dari berbagai daerah diharapkan dapat mendorong ketertarikan wisatawan mancanegara untuk mengenal langsung daerah asal karya tersebut, sekaligus membuka peluang pasar global bagi produk kreatif Indonesia.
Dengan demikian, pameran ini membawa tiga misi sekaligus: memperkuat diplomasi budaya Indonesia, mempromosikan destinasi wisata berbasis budaya, serta memperluas akses pasar bagi ekonomi kreatif nasional.
Menteri Kebudayaan telah menugasi tim teknis untuk segera mempersiapkan materi dan pelaksanaan pameran yang akan digelar pada 2027. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjadikan kebudayaan bukan hanya sebagai identitas bangsa, tetapi juga sebagai kekuatan strategis Indonesia dalam membangun hubungan internasional.
Melalui Indonesia Living Heritage 2027, Indonesia hendak menunjukkan bahwa kekayaan budaya Nusantara bukan sekadar warisan masa lalu. Ia adalah kekuatan hidup yang dapat menjadi jembatan diplomasi, pintu masuk pariwisata, sekaligus sumber pertumbuhan ekonomi kreatif.
Dari Washington DC, Indonesia ingin menegaskan bahwa menjadi bagian dari peradaban dunia bukan sekadar tentang hadir, tetapi tentang membawa identitas, gagasan, dan kekayaan budaya sendiri untuk dihargai serta menjadi bagian dari percakapan global.
