NVIDIA Siapkan Investasi US$4,5 Miliar di Batam, Indonesia Bidik Ekosistem AI Berkelas Dunia
WASHINGTON DC — Indonesia memasuki babak baru dalam pengembangan ekosistem kecerdasan buatan (AI) nasional. Rencana investasi NVIDIA sekitar US$4,5 miliar di Batam menjadi momentum penting untuk memperkuat kapasitas komputasi, pusat data, pengembangan talenta, sekaligus mendorong Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi AI, tetapi juga mampu mengembangkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan nasional.
Rencana investasi tersebut mengemuka setelah Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pada 23 September 2026 mengumumkan rencana investasi NVIDIA di Batam yang diarahkan untuk pengembangan pusat data dan kapasitas komputasi AI nasional.
Momentum tersebut kemudian diperkuat melalui pertemuan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat Indroyono Soesilo dengan Chief External Affairs Officer (CEAO) NVIDIA Bruce Andrews di Washington DC, Senin (28/9/2026). Pertemuan turut dihadiri Koordinator Fungsi Ekonomi KBRI Washington DC Pangeran Ibrani Situmorang.
Dalam pertemuan itu, dibahas peluang pemanfaatan AI Open Model NVIDIA di Indonesia, termasuk potensi penerapannya untuk memperkuat riset, pendidikan, pengelolaan data, serta pengembangan berbagai solusi berbasis kecerdasan buatan.
“Indonesia memiliki peluang besar untuk membangun ekosistem AI yang tidak hanya kuat dari sisi infrastruktur, tetapi juga menghasilkan solusi yang aman, relevan dan bermanfaat bagi kebutuhan masyarakat,” ujar Indroyono.
NVIDIA saat ini bukan lagi sekadar perusahaan pembuat kartu grafis untuk industri gim. Perusahaan teknologi asal Amerika Serikat tersebut telah menjadi salah satu pemain utama dalam ekosistem AI global melalui pengembangan GPU, sistem pusat data, jaringan dan perangkat lunak yang digunakan dalam berbagai sektor, mulai dari chatbot, riset obat, robotika, kendaraan cerdas, manufaktur hingga analisis data skala besar.
Skala bisnis NVIDIA juga menunjukkan betapa strategisnya posisi perusahaan tersebut dalam industri AI global. Pada tahun fiskal 2025, NVIDIA membukukan pendapatan US$130,5 miliar atau sekitar Rp2.283 triliun dengan asumsi kurs Rp17.500 per dolar AS. Angka tersebut meningkat 114 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan laba bersih mencapai US$72,9 miliar atau sekitar Rp1.276 triliun.
Hubungan Indonesia dengan NVIDIA sendiri telah berkembang sejak 2021. Pada Januari tahun tersebut, PT Telkom Indonesia menjadi perusahaan pertama di Indonesia yang menggunakan superkomputer NVIDIA DGX A100 untuk pengembangan computer vision, AI dan aplikasi berbasis 5G.
Kerja sama kemudian meluas ke sektor pendidikan. Pada 2022, NVIDIA bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi untuk pelatihan dosen serta lebih dari 20.000 mahasiswa selama lima tahun, pengembangan kurikulum AI, riset, lokakarya, penguatan startup dan pemanfaatan sistem DGX A100.
Kemitraan Indonesia dengan NVIDIA terus berkembang bersama Indosat Ooredoo Hutchison. Pada 2024, pemerintah mengumumkan rencana pembangunan AI Center senilai US$200 juta. Setahun kemudian, pada Juli 2025, Kementerian Komunikasi dan Digital, Indosat, Cisco dan NVIDIA membentuk Indonesia AI Center of Excellence untuk mendukung riset lokal, pengembangan talenta, infrastruktur dan keamanan AI.
Perkembangan terbaru terjadi pada 13 Agustus 2026 ketika Kementerian Komdigi, Universitas Gadjah Mada, Indosat dan NVIDIA meluncurkan UGM–Indosat–NVIDIA AI Technology Center di Yogyakarta.
Menurut Indroyono, investasi dan kerja sama teknologi tersebut perlu diarahkan agar memberikan dampak jangka panjang terhadap kapasitas nasional, terutama dalam penguasaan teknologi, pengembangan sumber daya manusia dan pemanfaatan data secara aman.
Salah satu peluang yang dapat dikembangkan adalah penggunaan AI Open Model untuk lingkungan institusi seperti perguruan tinggi. Dengan dukungan infrastruktur GPU, universitas dapat menjalankan model AI pada server internal maupun cloud privat, sekaligus mengintegrasikan puluhan ribu dokumen seperti skripsi, tesis, jurnal, laporan penelitian, peraturan akademik, notulen rapat hingga arsip kerja sama internasional.
Teknologi tersebut memungkinkan dosen maupun pimpinan perguruan tinggi melakukan pencarian dan analisis dokumen secara lebih cepat, sekaligus tetap menerapkan pengaturan hak akses bagi mahasiswa, dosen, pustakawan dan pimpinan universitas.
Namun, pengembangan AI nasional juga harus berjalan beriringan dengan penguatan keamanan siber, perlindungan data, pengujian ketepatan jawaban serta ketersediaan tenaga ahli yang mampu mengelola sistem.
Dengan fondasi tersebut, Indonesia memiliki peluang untuk bergerak dari sekadar pasar pengguna teknologi AI menjadi negara yang mampu mengembangkan solusi kecerdasan buatan sendiri, dengan infrastruktur, talenta dan tata kelola yang sesuai dengan kebutuhan nasional.
Pertemuan di Washington DC menjadi bagian dari upaya memperkuat komunikasi Indonesia dengan salah satu perusahaan teknologi AI terbesar dunia, sekaligus memastikan investasi dan kerja sama teknologi yang berkembang dapat memberikan nilai tambah bagi Indonesia.
