ANTARA Perkuat Jembatan Informasi Indonesia–Amerika Serikat
NEW YORK, AS — Di sela rangkaian Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) 2026 di New York, Amerika Serikat, Selasa, 22 September 2026, Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia Meutia Hafid mengadakan pertemuan dengan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo. Pertemuan membahas peluang penguatan kerja sama Indonesia–Amerika Serikat di bidang komunikasi serta perkembangan teknologi digital.
Dalam pertemuan itu, Menteri Meutia menyampaikan rencana Kantor Berita Nasional ANTARA untuk segera membuka kantor perwakilan di Amerika Serikat. Kehadiran perwakilan ini diharapkan memperluas penyebaran informasi Indonesia kepada publik Amerika, sekaligus menyampaikan perkembangan berbagai kerja sama Indonesia–AS kepada masyarakat Indonesia secara cepat, akurat, dan berimbang.
Rencana tersebut memiliki makna historis. ANTARA lahir pada 13 Desember 1937, didirikan oleh Adam Malik, Soemanang, A.M. Sipahoetar, dan Pandoe Kartawigoena. Pada masa kolonial, ANTARA menjadi kantor berita perjuangan yang menghadirkan suara Indonesia di tengah dominasi narasi kolonial. Perannya sangat penting pada 17 Agustus 1945, ketika ANTARA turut menyiarkan berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ke berbagai daerah dan dunia internasional. Sejak 1962, ANTARA resmi menjadi Lembaga Kantor Berita Nasional.
Saat ini, ANTARA tidak hanya menjalankan fungsi pemberitaan nasional, melainkan juga menjadi penghubung informasi Indonesia dengan dunia. ANTARA menyajikan berita, foto, video, dan informasi multimedia; mengelola jaringan biro di seluruh provinsi; serta menjalin kemitraan dengan kantor berita internasional.
Saat ini, ANTARA memiliki tiga biro atau perwakilan luar negeri, yakni di Kuala Lumpur, Beijing, dan London. Pembukaan kantor perwakilan di Amerika Serikat akan memperluas jaringan tersebut ke pusat diplomasi, ekonomi, teknologi, pendidikan, dan media global.
Duta Besar Indroyono menyambut positif rencana ini. Perwakilan ANTARA di AS dapat memperkuat pemberitaan mengenai kerja sama politik, ekonomi, sosial, budaya, dan hubungan antarmasyarakat atau people-to-people contact kedua negara.
Potensi liputannya sangat besar, menjangkau 340 juta rakyat AS dan 280 juta warga Indonesia, serta ke seluruh masyarakat global. Pada tahun 2025, nilai perdagangan barang dan jasa Indonesia–AS mencapai sekitar US$43 miliar, dengan surplus US$19 miliar untuk Indonesia.
Produk Indonesia yang kuat di pasar AS, antara lain peralatan listrik dan elektronik, pakaian jadi, alas kaki, minyak dan lemak nabati termasuk produk sawit, produk karet, mesin, furnitur, serta hasil perikanan.
Cerita di balik produk-produk ini—tentang pekerja, pelaku usaha kecil, inovasi manufaktur, dan standar keberlanjutan—merupakan bahan feature yang relevan untuk diangkat menjadi berita liputan ANTARA yang luas dan berlanjut.
Di bidang pendidikan, sekitar 8.348 mahasiswa Indonesia tercatat belajar di kampus-kampus universitas Amerika Serikat pada tahun akademik 2023/2024. Jumlah tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara asal mahasiswa internasional terbesar kedua dari Asia Tenggara di AS.
Kisah mahasiswa, peneliti, alumni, dan diaspora Indonesia dapat menjadi wajah nyata kemitraan kedua negara. Dengan demikian, kantor ANTARA di AS berpeluang menjadi ruang informasi yang tidak hanya melaporkan peristiwa, tetapi juga merawat saling pengertian antara masyarakat Indonesia dan Amerika Serikat.
