Tahyudin Aditya Dorong Budaya Betawi Jadi Prioritas Jelang 500 Tahun Jakarta
JAKARTA – Sekretaris Jenderal (Sekjen) Bamus Betawi, Tahyudin Aditya, mengapresiasi langkah Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung yang tetap memprioritaskan sektor pendidikan, kesehatan, dan bantalan sosial di tengah kebijakan efisiensi anggaran.
Menurut Tahyudin, ketiga sektor tersebut berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar dan perlindungan masyarakat Jakarta, khususnya kelompok yang membutuhkan perhatian pemerintah.
Namun, Tahyudin yang juga Ketua Seniman Intelektual Betawi (SIB) mendorong agar pelestarian dan pemajuan budaya Betawi turut menjadi salah satu prioritas pembangunan Jakarta, terlebih menjelang momentum 500 tahun Jakarta.
“Bagus kalau pendidikan, kesehatan dan bantalan sosial menjadi prioritas. Tetapi menjelang 500 tahun Jakarta, budaya Betawi juga harus menjadi perhatian serius. Jangan sampai identitas dan kebudayaan masyarakat Betawi justru terpinggirkan,” ujar Tahyudin.
Ia menilai budaya Betawi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah panjang Jakarta. Karena itu, momentum lima abad Jakarta semestinya menjadi kesempatan untuk memperkuat eksistensi, melestarikan, sekaligus mengembangkan kebudayaan Betawi.
“Pembangunan Jakarta ke depan harus berjalan beriringan dengan penguatan identitas budaya masyarakatnya. Jakarta boleh semakin modern, tetapi jangan kehilangan jati dirinya,” katanya.
LAKB Harus Jadi Payung Pemersatu
Tahyudin juga menyoroti pembentukan Lembaga Adat Kebudayaan Betawi (LAKB). Ia berharap lembaga tersebut tidak menjadi instrumen politik maupun kepentingan kelompok tertentu, melainkan hadir sebagai payung yang mampu mempersatukan seluruh elemen masyarakat Betawi.
“Jangan sampai lembaga adat justru menjadi alat politik semata. Harus menjadi payung pemersatu kaum Betawi,” tegasnya.
Menurut Tahyudin, masyarakat Betawi memiliki beragam organisasi, tokoh, komunitas, dan kelompok dengan latar belakang serta pilihan politik yang berbeda. Perbedaan tersebut, kata dia, seharusnya tidak menjadi alasan untuk memperlebar perpecahan.
Karena itu, ia berharap Gubernur Pramono Anung dapat merangkul seluruh elemen masyarakat Betawi tanpa membedakan latar belakang maupun pilihan politik.
“Pramono harus bisa merangkul seluruh kalangan Betawi, baik yang menjadi pendukungnya maupun yang tidak. Jangan malah terpecah belah,” kata Tahyudin.
Ia menilai persatuan masyarakat Betawi menjadi modal penting dalam menyambut Jakarta menuju usia 500 tahun. Pemerintah daerah, lanjutnya, harus hadir sebagai pengayom seluruh kelompok dan memastikan kebijakan kebudayaan tidak menimbulkan fragmentasi di tengah masyarakat.
Tiga Prioritas Pemprov DKI
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan tiga sektor yang tidak boleh dikurangi di tengah efisiensi anggaran, yakni pendidikan, kesehatan, dan bantalan sosial.
Pramono menyampaikan hal tersebut dalam sambutannya pada acara Penyerahan Penghargaan Anugerah Jurnalistik Muhammad Hoesni Thamrin 2026 di Balai Kota DKI Jakarta.
Di sektor pendidikan, sejumlah program tetap dipertahankan, antara lain Kartu Jakarta Pintar (KJP), Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU), pemutihan ijazah, hingga rencana peluncuran LPDP Jakarta.
Cakupan KJMU juga diperluas. Penerima tidak lagi dibatasi untuk menempuh pendidikan di Jakarta, tetapi dapat berkuliah di berbagai daerah di Indonesia. Program tersebut juga dapat diberikan untuk jenjang pendidikan yang lebih tinggi, termasuk S2 dan S3.
Di bidang kesehatan, Pramono memastikan bantuan BPJS Kesehatan bagi warga Jakarta yang tidak mampu tetap dipertahankan. Pemprov DKI juga berencana membangun dua rumah sakit baru, yakni Rumah Sakit Sumber Waras dan Rumah Sakit Royal Batavia Cakung yang ditargetkan beroperasi pada 2028.
Sementara di bidang bantalan sosial, Pemprov DKI mempertahankan berbagai program perlindungan masyarakat, termasuk layanan Pasukan Putih bagi lansia dan penyandang disabilitas serta akses gratis transportasi publik bagi kelompok masyarakat tertentu.
Bagi Tahyudin, berbagai kebijakan tersebut merupakan langkah positif. Namun, pembangunan Jakarta menuju 500 tahun harus memiliki keseimbangan antara pembangunan fisik, kesejahteraan masyarakat, dan penguatan kebudayaan.
Ia berharap momentum lima abad Jakarta tidak berhenti sebagai perayaan sejarah, tetapi menjadi titik penting untuk memastikan budaya Betawi semakin kuat, berkembang, dan mendapat tempat yang layak dalam arah pembangunan Jakarta ke depan.
