Wayang Masuk Tongkrongan: Strategi Baru Membumikan Tradisi di Era Gen Z
Bekasi, 1 Mei 2026 — Upaya membumikan budaya tradisional kembali menemukan momentumnya. Melalui program Bincang Budaya di Radio Dakta 107 FM, sebuah diskursus penting mengemuka: bagaimana menjadikan wayang tidak sekadar warisan budaya, tetapi hadir sebagai bagian dari keseharian generasi muda.
Mengangkat tema “Wayang Masuk Tongkrongan: Membumikan Tradisi ke Gen Z”, dialog ini menghadirkan Dr. Wawan Gunawan—yang dikenal sebagai Ki Dalang Wawan Ajen sekaligus dosen di Politeknik Pariwisata NHI Bandung—bersama pemandu acara Bang Oman dan Neng Ulfi.
Perbincangan tersebut menyoroti tantangan sekaligus peluang dalam mentransformasikan seni tradisi agar tetap relevan di tengah perubahan zaman.
Dalam pemaparannya, Ki Dalang Wawan Ajen menegaskan bahwa tantangan utama pelestarian budaya bukan terletak pada rendahnya minat generasi muda, melainkan pada pendekatan yang kurang adaptif.
Ia menekankan pentingnya perubahan paradigma dalam pendidikan budaya, dari pendekatan yang kaku dan instruktif menjadi lebih reflektif serta responsif terhadap karakter generasi saat ini.
“Anak-anak tidak boleh dipaksa memahami tradisi dengan cara pandang orang dewasa. Kita perlu membaca cara mereka belajar, berinteraksi, dan merespons,” ujar Wawan.
Wayang, menurutnya, harus dipahami lebih dari sekadar pertunjukan. Ia merupakan representasi nilai kehidupan yang mencakup etika, relasi sosial, hingga pembentukan karakter. Tokoh-tokoh pewayangan perlu dihadirkan dalam konteks kekinian agar mampu menjadi cermin yang relevan bagi generasi muda.
Selain sebagai media nilai, wayang juga memiliki potensi dalam meningkatkan literasi. Dalam praktik pembelajaran di Sanggar Wayang Ajen Bekasi, keterlibatan anak-anak dalam cerita dan naskah pewayangan terbukti mendorong perkembangan kemampuan membaca dan imajinasi. Cerita menjadi medium yang efektif untuk menumbuhkan rasa ingin tahu secara alami.
Seiring perkembangan teknologi, transformasi wayang juga merambah ruang digital. Platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube dimanfaatkan sebagai sarana distribusi konten budaya yang lebih dekat dengan keseharian Gen Z. Fenomena ini dinilai sebagai peluang strategis untuk memperluas jangkauan sekaligus memperbarui cara penyajian tradisi.
Dalam kesempatan tersebut, diperkenalkan pula konsep Spirit Sapta Ajen, yang menjadi kerangka pembinaan generasi muda berbasis seni tradisi. Tujuh nilai yang diusung meliputi nilai spiritual, budaya, kreatif, ekonomi, informasi, komitmen, dan keberlanjutan. Konsep ini telah diimplementasikan secara nyata dalam aktivitas pendidikan di Sanggar Wayang Ajen.
Menariknya, ketertarikan terhadap wayang justru tumbuh dari ruang-ruang nonformal. Banyak peserta sanggar mengenal wayang melalui media sosial sebelum akhirnya terlibat lebih jauh dalam pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi dapat berkembang ketika dikemas dengan pendekatan yang kontekstual dan sesuai dengan lanskap budaya saat ini.
Diskusi ini juga menyoroti perlunya refleksi kritis terhadap cara pewarisan budaya. Generasi muda kerap dianggap tidak peduli, padahal yang terjadi adalah ketidaksesuaian metode penyampaian. Wayang tidak kehilangan relevansi—yang dibutuhkan adalah cara baru untuk menghadirkannya.
Menutup perbincangan, Ki Dalang Wawan Ajen menegaskan bahwa pelestarian budaya bukan sekadar menjaga bentuk lama, melainkan memastikan nilai-nilai di dalamnya tetap hidup dan berkembang.
“Wayang tidak harus disimpan sebagai artefak masa lalu. Ia harus hadir di ruang hidup hari ini—di tongkrongan, di layar digital, dan dalam imajinasi generasi muda,” tutupnya.
Dengan pendekatan yang adaptif dan inovatif, wayang berpeluang tidak hanya bertahan, tetapi juga menjadi bagian integral dari identitas budaya generasi masa depan.
