Kemenparekraf Ajak Pelaku Kuliner Sabang Olah Pangan Lokal jadi Oleh-oleh
SABANG – Kuliner di Kota Sabang dinilai memiliki potensi tinggi untuk dikembangkan. Untuk mendukung hal itu, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/ Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif melakukan Sosialisasi Training Camp Subsektor Kuliner Bagi Pelaku Ekonomi Kreatif Di Kota Sabang, Rabu-Kamis (1-2/3/2023). Tema yang diangkat adalah Kreatif Mengolah Pangan Lokal Menjadi Oleh-oleh Khas Kota Sabang.
Menurut Deputi Bidang Sumber Daya Dan Kelembagaan, Diah Paham, memasuki era pasca-pandemi, tantangan dan harapan dalam upaya merevitalisasi kondisi ekonomi nasional terus digalakkan pemerintah, khususnya sektor parekraf.
“Tahun 2045, Indonesia diproyeksi akan menjadi salah satu negara dengan perekonomian terbesar di dunia, sehingga disebut sebagai Indonesia Emas karena akan mendapat bonus demografi sebesar 70 persen usia produktif,” katanya, Kamis (2/3/2023).
Ia menambahkan, masyarakat saat ini sedang memasuki era VUCA atau Volatility, Uncertainty, Complexity dan Ambiguity.
Diah Paham menambahkan, Kota Sabang adalah salah satu kota Kreatif paling barat di Indonesia, dan sekaligus sebagai pintu wisatawan yang berbatasan langsung dengan negara tetangga yaitu Malaysia, Thailand, dan India.
“Dengan potensi pariwisata baik nusantara dan mancanegara, tentunya tidak lengkap dengan didukung sektor ekonomi kreatif yang baik, salah satunya kuliner dan oleh-oleh khas Kota Sabang. Kue Bhoi, Kue Kara, Kue Timpan, dan Kue Kembang Loyang, adalah beberapa salah satu contoh jajanan khas Kota Sabang yang potensial untuk dikembangkan kembali,” paparnya.
Dengan bantuan sharing bersama Narasumber, ia berharap kegiatan ini dapat melahirkan inovasi kuliner yang nantinya dapat sebagai buah tangan dan juga sekaligus daya tarik kembali wisatawan untuk datang lagi dan lagi ke Kota Sabang.
Direktur Pengembangan Sumber Daya Manusia Ekonomi Kreatif, Alexander Reyaan, menjelaskan Program Ekraf Training Camp bertujuan untuk peningkatan, pengembangan perbaikan dan penyegaran kompetensi.
“Program ini dapat dilakukan secara clustering atau wilayah sesuai dengan jenis dan tingkat kompetensi pekerjaan dan jabatan di suatu wilayah atau daerah,” tuturnya.
Ia menambahkan, kegiatan akan dilaksanakan selama dua hari 1 – 2 Maret 2023, dengan jumlah peserta 100 peserta.
“Selama dua hari, peserta akan diberikan pelatihan terkait pengolahan bahan pangan lokal menjadi kuliner kreatif dan mengembangkanya menjadi usaha,” ujarnya.
Penjabat Walikota Sabang, Reza Pahlevi, menyambut baik terselenggaranya kegiatan ini. Ia berharap kegiatan ini dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat Sabang.
“penguatan kapasitas pelaku industri ekonomi kreatif dalam hal ini para pelaku usaha kuliner adalah sebuah upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan pelaku, memperluas jejaring dan membuka kesempatan kerja supaya nilai ekonomis dari produk-produk yang dihasilkan bisa maksimal dan lebih luas jejaring pasarnya,” ujarnya.
Reza menambahkan, kuliner sebagai subsektor ekraf memiliki potensi cukup besar dalam pengembangan ekonomi pariwisata dan ekonomi kreatif nasional. kuliner selain sebagai salah satu ciri khas suatu wilayah. juga dapat menjadi salah satu sektor potensi dalam meningkatkan perekonomian.
“Kita ketahui bersama bahwa kota Sabang merupakan kota yang memiliki keanekaragaman kuliner, tentu penguatan kapasitas pelaku industri kuliner sangat dibutuhkan di Kota Sabang,” ujarnya.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/ Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno,
mengatakan ada 5 kriteria penting untuk menjadi pengusaha sukses.
“Yaitu yang pertama Inovatif, Adaptif, Kolaboratif, kedua Berani Ambil Risiko, ketiga Jalin Relasi dan Networking, keempat Memiliki dan Mengasah Soft Skills, serta yang kelima Prinsip 4 AS : Kerja KerAS, Kerja CerdAS, Kerja TuntAS, dan Kerja IkhlAS,” paparnya
Sandiaga menambahkan, program ini juga sejalan dengan Gerakan Bangga Berwisata di Indonesia (BBI) dan Beli Kreatif Lokal (BKL).
