Indonesia–AS Perkuat Riset Laut Hadapi Ancaman El Niño 2026–2027
WASHINGTON, D.C. — Indonesia dan Amerika Serikat memperkuat kerja sama riset kelautan sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi potensi El Niño 2026–2027 yang diperkirakan dapat berlangsung dengan intensitas sangat kuat.
Penguatan kolaborasi tersebut dibahas dalam webinar yang digelar KBRI Washington, D.C., bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Scripps Institution of Oceanography, University of California San Diego, pada 28 September 2026. Forum tersebut mempertemukan lembaga pemerintah, peneliti, perguruan tinggi, serta mitra riset dari Indonesia dan Amerika Serikat.
Duta Besar RI untuk Amerika Serikat Indroyono Soesilo mengatakan, menghadapi ancaman El Niño, Indonesia membutuhkan penguatan observasi laut, pengembangan instrumentasi, serta riset Indonesian Throughflow (ITF) agar perubahan kondisi laut dan iklim dapat dipahami secara lebih dini.
“El Niño harus diterjemahkan menjadi kesiapsiagaan nyata melalui observasi laut dalam, pengembangan instrumentasi, dan riset Indonesian Throughflow. Agenda ini merupakan bagian dari kerja sama iptek dalam kerangka Comprehensive Strategic Partnership Indonesia–AS,” ujar Indroyono.
Kolaborasi tersebut juga didukung Kapal Riset BRIN Baruna Jaya dan alokasi hari layar untuk mendukung kegiatan observasi kelautan. Kerja sama BPPT/BRIN dengan Scripps sendiri telah memiliki fondasi sejak dekade 1990-an, terutama dalam riset Indonesian Throughflow dan pengamatan laut.
Dalam forum tersebut, Dr. Mark Merrifield dari Scripps memaparkan bahwa suhu muka laut Pasifik di sepanjang garis khatul
