Nasional

Pesawat Gelatik Diabadikan di Museum ITB, Merawat Jejak Awal Industri Dirgantara Indonesia

BANDUNG — Pesawat PZL-104 Gelatik, salah satu tonggak penting dalam perjalanan awal industri penerbangan nasional, kini resmi diabadikan sebagai koleksi Museum Institut Teknologi Bandung (ITB). Pesawat tersebut diserahkan kepada Museum ITB pada Rabu, 2 September 2026, bersama sejumlah dokumen sejarah dan foto yang merekam perjalanan serta pemanfaatannya dalam perkembangan teknologi penerbangan Indonesia.

Gelatik merupakan versi Indonesia dari PZL-104 Wilga, pesawat ringan serbaguna buatan Polandia. Pengembangannya di Indonesia dirintis pada awal dekade 1960-an melalui kerja sama alih teknologi antara Lembaga Persiapan Industri Penerbangan (LAPIP) yang dipimpin Komodor Udara Nurtanio dengan CEKOP dan PZL Warszawa-Okęcie dari Polandia. Pesawat tersebut kemudian dirakit dan diproduksi di Bandung, sementara nama “Gelatik” diberikan Presiden Soekarno, mengambil nama burung kecil yang dikenal lincah dan mudah bergerak.

Sebagai pesawat bermesin tunggal dengan kemampuan short take-off and landing (STOL), Gelatik dirancang untuk beroperasi secara fleksibel di berbagai kondisi. Pesawat ini antara lain digunakan untuk penerbangan latih, penghubung, pengamatan udara, kegiatan pertanian, penarikan pesawat layang, penerjunan hingga angkutan ringan. Karakter tersebut membuat Gelatik relevan dengan kondisi Indonesia sebagai negara kepulauan yang pada masa itu belum memiliki banyak lapangan terbang besar.

Hingga pertengahan 1970-an, sebanyak 44 unit Gelatik diproduksi di Indonesia. Pengalaman produksi tersebut menjadi salah satu fondasi bagi perkembangan industri penerbangan nasional, yang kemudian berlanjut melalui Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio (LIPNUR), IPTN, hingga berkembang menjadi PT Dirgantara Indonesia.

Sejarah Gelatik juga memiliki kaitan erat dengan dunia pendidikan tinggi. Pada 14 Oktober 1979, sebanyak lima unit pesawat Gelatik diserahkan untuk kemudian dihibahkan kepada lima perguruan tinggi, yakni ITB, Universitas Gadjah Mada, Universitas Syiah Kuala, Universitas Mulawarman, dan Universitas Cenderawasih. Penyerahan itu dimaksudkan untuk mendukung pendidikan sekaligus memperkenalkan teknologi penerbangan kepada mahasiswa.

Pesawat Gelatik milik ITB sendiri telah disimpan di hanggar Pangkalan Udara TNI AU Husein Sastranegara, Bandung, sejak 1993. Pada Juni 2026, sejumlah alumni ITB mulai merintis upaya pengabadian pesawat tersebut di Museum ITB. Proses itu melibatkan sejumlah alumni, antara lain Indroyono Soesilo, Tedi Rizalihadi, Gita Amperiawan, Idwan Soehardi, Ridwan Djamaluddin, dan Heri Heryadi.

Pada Rabu, 2 September 2026, Duta Besar RI untuk Amerika Serikat yang juga alumnus Teknik Geologi ITB, Indroyono Soesilo, menyerahkan pesawat PZL-104 Gelatik kepada Museum ITB. Pesawat tersebut diterima Wakil Rektor ITB, Dr. Andryanto Rikrik Kusmara, yang mewakili Rektor ITB.

Penyerahan tersebut turut dilengkapi dokumen sejarah dan koleksi foto sehingga warisan yang disimpan tidak hanya berupa artefak fisik, tetapi juga rekam jejak perjalanan Gelatik dalam sejarah teknologi penerbangan Indonesia.

“Gelatik mengingatkan kita bahwa membangun industri dirgantara membutuhkan keberanian untuk belajar, menguasai teknologi, dan membangun kerja sama. Warisan seperti ini penting agar generasi muda memahami dari mana perjalanan industri penerbangan Indonesia dimulai,” kata Indroyono.

Pengabadian Gelatik di Museum ITB tidak sekadar menjadi upaya menyimpan pesawat bersejarah, tetapi juga menjadi bagian dari pelestarian memori tentang para perintis dirgantara Indonesia. Kehadirannya di lingkungan kampus diharapkan dapat menjadi sumber pembelajaran mengenai sejarah teknologi, pendidikan, inovasi, sekaligus pentingnya kerja sama internasional dalam membangun kapasitas nasional.

Dengan ditempatkannya Gelatik sebagai koleksi Museum ITB, sebuah bagian penting dari perjalanan awal industri penerbangan Indonesia kini memiliki ruang untuk terus dikenang dan dipelajari oleh generasi berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *