Ekonomi & BisnisInternasionalPolitik

Indonesia–AS Perkuat Kolaborasi Riset, Saintek Didorong Jadi Mesin Kemandirian Nasional

JAKARTA — Indonesia terus mempercepat langkah menuju kemandirian pangan, energi, penguatan industri bernilai tambah, serta penguasaan teknologi. Di tengah agenda tersebut, sains dan teknologi (saintek) semakin ditempatkan sebagai fondasi penting untuk membangun daya saing nasional sekaligus memastikan hasil penelitian dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Semangat itu mengemuka dalam pertemuan yang mempertemukan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, Kepala BRIN Arif Satria, Direktur Utama LPDP Yon Arsal, dan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat Indroyono Soesilo di Jakarta pada awal September 2026. Pertemuan tersebut membahas penguatan kerja sama riset antara BRIN dan perguruan tinggi di Indonesia dengan lembaga penelitian serta universitas terkemuka di Amerika Serikat.

Kolaborasi ini diarahkan tidak sekadar untuk menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga membangun jembatan dari penelitian menuju inovasi, hilirisasi, investasi, dan penguatan industri nasional. Ekosistem riset Amerika Serikat yang menghubungkan universitas, laboratorium nasional, dan industri dinilai dapat dipadukan dengan kebutuhan strategis Indonesia, mulai dari ketahanan pangan, substitusi energi, hilirisasi mineral, hingga pengembangan teknologi masa depan.

Dalam pembicaraan tersebut, program riset yang tengah dirintis BRIN bersama mitra di Amerika Serikat juga terbuka bagi profesor dan dosen dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Kolaborasi tersebut akan diperkuat melalui skema pendanaan bersama, termasuk dukungan LPDP-Riset serta program beasiswa LPDP, terutama bagi pengembangan sumber daya manusia di bidang STEM.

Sejumlah bidang strategis telah masuk dalam agenda kerja sama. Di sektor kelautan dan pangan, BRIN bersama Pusat Hidro-Oseanografi TNI-AL merintis kolaborasi dengan Scripps Institution of Oceanography dan UC San Diego, termasuk pemanfaatan kapal riset Baruna Jaya untuk pemantauan laut, riset perikanan berkelanjutan, dan mitigasi bencana pesisir.

Di bidang mineral kritis dan logam tanah jarang, BRIN dan ITB Bandung merintis penelitian bersama Argonne National Laboratory, University of Michigan, dan University of Iowa. Riset ini berpotensi mendukung pengembangan industri elektronik serta kendaraan listrik nasional.

Sementara itu, pengembangan ekosistem semikonduktor juga mulai diarahkan melalui kerja sama BRIN dengan Arizona State University dan dukungan ARM Corp. Kolaborasi tersebut mencakup desain serta pencetakan chip semikonduktor sebagai bagian dari upaya membangun kemampuan teknologi strategis di dalam negeri.

Pada sektor energi, BRIN menjajaki penelitian gasifikasi batu bara kalori rendah untuk substitusi LPG bersama Latitude Energy dan University of North Dakota, sekaligus mengembangkan riset energi hijau rendah karbon bersama berbagai mitra industri Amerika Serikat.

Kerja sama juga menyentuh sektor peternakan dan gizi melalui program ternak unggul antara BRIN, IPB University, dan UC Davis. Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan produktivitas ternak, memperbaiki kualitas gizi, dan mengembangkan teknik peternakan yang lebih efisien.

Bagi sektor UMKM, kerja sama permesinan dengan Northwestern University menjadi bagian dari upaya memperkuat kemampuan manufaktur skala kecil dan menengah sehingga produk lokal memiliki daya saing yang lebih tinggi.

Di bidang kecerdasan buatan dan infrastruktur data, BRIN melanjutkan tradisi riset machine learning dan machine translation yang telah berkembang sejak era BPPT. Penguatan kerja sama dengan perusahaan teknologi global, termasuk Amazon, Microsoft, Google, dan Apple, diarahkan untuk memperkuat infrastruktur data, mempercepat adopsi AI, serta menyiapkan talenta digital Indonesia.

Sektor antariksa juga menjadi bagian penting dari agenda tersebut. BRIN akan merintis kerja sama dengan NASA Johnson Space Center dan Planet Labs untuk pengembangan mikrosatelit penginderaan jauh. Integrasi data satelit beresolusi tinggi dengan teknologi AI diharapkan dapat mendukung pertanian presisi, pemantauan lahan, mitigasi bencana, dan pengelolaan sumber daya alam.

“Kerja sama Indonesia dan Amerika Serikat ini harus memberi manfaat timbal balik: Indonesia memperoleh alih teknologi, peningkatan kapasitas riset dan akses terhadap ekosistem inovasi, sementara Amerika Serikat mendapatkan akses terhadap talenta dan pasar Indonesia,” kata Indroyono Soesilo.

Kepala BRIN Arif Satria menegaskan, penguatan kerja sama internasional berjalan beriringan dengan revitalisasi kapasitas riset nasional. Pembaruan peralatan laboratorium, penambahan armada kapal riset, serta peningkatan kapasitas para periset menjadi bagian dari langkah memperkuat BRIN sebagai institusi riset yang mampu menghasilkan inovasi hingga tahap hilirisasi.

Dukungan LPDP juga menjadi elemen penting dalam membangun ekosistem tersebut. Selain dukungan pendanaan riset, LPDP menyiapkan skema pengembangan sumber daya manusia melalui program 3–1–1, yakni tiga tahun pendidikan di perguruan tinggi Indonesia, satu tahun di universitas Amerika Serikat untuk memperoleh gelar sarjana, kemudian satu tahun lanjutan program magister di universitas yang sama.

Skema tersebut telah mulai dijalankan University of Wisconsin serta Universitas Indonesia bersama Georgetown University di bidang diplomasi dan foreign service. Ke depan, program serupa akan dikembangkan untuk bidang Computer Science dan carbon sequestration bersama George Washington University dan perguruan tinggi di Indonesia.

Dengan keterlibatan berbagai institusi seperti Scripps/UC San Diego, Argonne Laboratory, University of Michigan, University of Iowa, Ohio State University, University of North Dakota, UC Davis, Northwestern University, Arizona State University, Georgetown University, University of Wisconsin, NASA Johnson Space Center, hingga perusahaan teknologi dan industri Amerika Serikat, kerja sama ini membentuk rantai kolaborasi yang mencakup penelitian dasar hingga komersialisasi.

Pada akhirnya, penguatan kerja sama riset Indonesia–AS diharapkan tidak berhenti pada hubungan antarlembaga, tetapi mampu melahirkan teknologi yang benar-benar digunakan, industri yang semakin kuat, lapangan kerja berkeahlian tinggi, serta sumber daya manusia Indonesia yang semakin kompetitif.

Langkah tersebut sekaligus menegaskan bahwa kemandirian nasional tidak berarti berjalan sendiri, melainkan membangun kemampuan sendiri melalui kolaborasi strategis, penguasaan ilmu pengetahuan, transfer teknologi, dan investasi pada manusia. Dengan fondasi itu, Indonesia memiliki peluang semakin besar untuk tampil sebagai salah satu mitra inovasi penting di kawasan Indo-Pasifik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *