Nasional

Indonesia Perkuat Peran dalam Pengembangan Ekonomi Syariah Global di Forum World Bank

WASHINGTON, D.C. – Indonesia terus memperkuat perannya dalam mendorong pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di tingkat global melalui partisipasi aktif pada International Islamic Economics and Finance Conference for Sustainable Development (IFESDC) 2026 yang berlangsung di Markas World Bank, Washington, D.C., pada 15–16 Juli 2026.

Forum internasional yang berada dalam kerangka kelompok EDS16 World Bank tersebut menjadi wadah strategis bagi para akademisi, pembuat kebijakan, lembaga keuangan, organisasi filantropi, serta pelaku industri dari berbagai negara untuk merumuskan langkah bersama dalam membangun sistem ekonomi yang lebih inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan melalui penguatan ekonomi dan keuangan Islam.

Konferensi ini mempertemukan berbagai institusi terkemuka dari Indonesia maupun dunia, di antaranya Universitas Indonesia, Universitas Tazkia Bogor, Dompet Dhuafa, Center for Technology & Innovation Studies (CTIS) Jakarta, University of Pennsylvania, Columbia University, Georgetown University, IMAAM Center Maryland, Islamic Bank of Thailand, serta World Bank. Kehadiran berbagai institusi tersebut mencerminkan semakin besarnya perhatian komunitas internasional terhadap perkembangan ekonomi syariah Indonesia sebagai salah satu kekuatan baru dalam ekosistem ekonomi global.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat Indroyono Soesilo mengatakan, “Indonesia memiliki modal yang sangat kuat untuk menjadi salah satu pusat pengembangan ekonomi syariah dunia. Melalui kolaborasi internasional, penguatan riset, inovasi digital, serta optimalisasi instrumen keuangan dan sosial Islam, kita dapat menghadirkan solusi pembangunan yang lebih inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan bagi masyarakat global.”

Secara global, tantangan pembangunan masih sangat besar. Sekitar 700 juta penduduk dunia masih hidup dalam kemiskinan ekstrem. Di sisi lain, industri keuangan Islam yang telah mencapai nilai sekitar USD 3,6 triliun dinilai masih belum dimanfaatkan secara optimal untuk menjawab berbagai tantangan pembangunan, khususnya di negara-negara berkembang.

Bagi Indonesia, peluang tersebut sangat besar. Dengan jumlah penduduk Muslim lebih dari 240 juta jiwa, Indonesia memiliki potensi menjadi pusat inovasi ekonomi syariah dunia, meskipun pangsa industri keuangan syariah nasional saat ini masih berada pada kisaran 10–11 persen.

Perkembangan kelembagaan juga menunjukkan kemajuan yang signifikan melalui pembentukan Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) serta penguatan Bank Syariah Indonesia (BSI) sebagai salah satu fondasi utama pengembangan industri keuangan syariah nasional. Di sisi lain, penerbitan sukuk negara yang telah melampaui USD 120 miliar menjadi bukti nyata kontribusi ekonomi syariah dalam pembiayaan pembangunan infrastruktur dan berbagai proyek berkelanjutan di Indonesia.

Forum tersebut juga menyoroti sejumlah langkah strategis untuk memperluas dampak ekonomi syariah. Harmonisasi regulasi dan integrasi inovasi digital di kawasan EDS16, termasuk pengembangan fintech syariah, dinilai menjadi kunci memperluas inklusi keuangan bagi sekitar 1,4 miliar penduduk dunia yang hingga kini belum terlayani sistem perbankan konvensional.

Selain itu, penguatan riset dan kolaborasi akademik internasional dipandang penting untuk menghasilkan kebijakan berbasis bukti sekaligus mempercepat pengembangan instrumen ekonomi syariah, mulai dari sukuk, industri halal, rantai pasok syariah, hingga optimalisasi zakat dan wakaf dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Forum juga menekankan pentingnya optimalisasi instrumen sosial Islam. Potensi zakat di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar USD 20 miliar per tahun, namun realisasi penghimpunannya masih berada di bawah USD 1 miliar, sehingga diperlukan inovasi tata kelola, digitalisasi, serta peningkatan literasi masyarakat agar potensi tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Dalam sesi pembahasan juga dipaparkan bahwa pada 2025, ekonomi Islam telah melayani sekitar 2 miliar penduduk dunia dengan kapasitas mencapai USD 6 triliun. Kontribusi terbesar berasal dari sektor makanan halal senilai sekitar USD 1,5 triliun, diikuti fesyen sebesar USD 347 miliar, serta media dan rekreasi sebesar USD 276 miliar. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ekonomi Islam tidak hanya menjadi alternatif sistem keuangan, tetapi telah berkembang menjadi ekosistem ekonomi global yang berlandaskan nilai keadilan, keberlanjutan, dan keseimbangan sosial.

Partisipasi Indonesia pada IFESDC 2026 di World Bank semakin mempertegas komitmen Indonesia untuk memperkuat kerja sama internasional, memperluas inovasi ekonomi syariah, serta mengambil peran yang lebih besar dalam membentuk arsitektur ekonomi global yang inklusif, tangguh, dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *