Dari Selat Sunda ke Arlington: Doa untuk USS Houston dan HMAS Perth, Jejak Sejarah yang Menyatukan Indonesia, Amerika, dan Australia
Washington DC,— Suasana hening menyelimuti Arlington National Cemetery, Washington DC, Amerika Serikat, saat keluarga pelaut, veteran perang, diplomat, dan masyarakat internasional berkumpul dalam upacara penghormatan bagi awak kapal penjelajah Angkatan Laut Amerika Serikat USS Houston dan kapal penjelajah Angkatan Laut Australia HMAS Perth yang gugur dalam Pertempuran Selat Sunda pada 1 Maret 1942.
Seremoni yang menjadi bagian awal rangkaian Memorial Day Amerika Serikat itu tidak hanya menjadi penghormatan bagi para prajurit yang gugur dalam Perang Dunia II, tetapi juga pengingat kuat bahwa perairan Indonesia menyimpan sejarah dunia yang menghubungkan bangsa-bangsa hingga hari ini.
Hadir sebagai tamu kehormatan, Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo, menegaskan bahwa Selat Sunda bukan sekadar lokasi pertempuran laut, melainkan makam perang internasional yang memiliki nilai sejarah dan kemanusiaan mendalam.
“Selat Sunda bukan hanya lokasi pertempuran laut bersejarah, tetapi juga makam bersama para prajurit dari berbagai bangsa. Indonesia memiliki komitmen untuk turut menjaga dan menghormati situs tenggelamnya USS Houston dan HMAS Perth sebagai bagian dari warisan sejarah dunia,” ujar Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo, dalam sambutannya di Arlington National Cemetery.
Upacara dimulai dengan doa bersama, dilanjutkan dengan pengenangan sejarah Pertempuran Laut Jawa 1942, sambutan dari perwakilan negara sahabat, pembacaan puisi oleh siswa sekolah menengah dari Philadelphia, serta penghormatan terakhir melalui tiupan sangkakala. Keheningan terasa kuat ketika karangan bunga diletakkan di antara deretan nisan putih Arlington sebagai simbol penghormatan kepada para pelaut yang gugur di perairan Nusantara lebih dari delapan dekade lalu.
Pertempuran yang dikenang dalam seremoni tersebut terjadi pada malam 28 Februari 1942. Saat itu, USS Houston secara tidak terduga bertemu armada Angkatan Laut Jepang di Laut Jawa, dekat Selat Sunda. USS Houston bersama HMAS Perth kemudian terlibat dalam pertempuran sengit melawan tiga kapal penjelajah Jepang dan kapal perusak Fubuki.
Dalam pertempuran itu, armada Jepang melepaskan total 87 torpedo ke arah kedua kapal Sekutu, disertai hujan tembakan senapan mesin. USS Houston dan HMAS Perth tenggelam dalam waktu singkat. Sebanyak 693 awak USS Houston gugur dan ikut tenggelam ke dasar Selat Sunda. Di pihak Jepang, satu kapal penyapu ranjau dan satu kapal angkut pasukan juga tenggelam akibat serangan torpedo Sekutu.
Bagi publik Amerika Serikat, upacara di Arlington ini menghubungkan Memorial Day dengan sebuah titik sejarah yang jauh di Asia Tenggara, yakni Laut Jawa dan Selat Sunda. Sementara bagi Indonesia, kehadiran dalam seremoni tersebut menjadi pengingat bahwa sejarah nasional tidak hanya hidup di daratan, tetapi juga tersimpan di laut yang menjadi saksi pertemuan dan pengorbanan banyak bangsa.
Upacara peringatan 18 Mei 2026 di Arlington National Cemetery menunjukkan bahwa ingatan kolektif dapat melintasi samudra—dari Selat Sunda, menuju kota Houston, hingga deretan nisan putih di Arlington—membawa pesan bahwa penghormatan kepada sejarah dan para pahlawan akan selalu menjadi jembatan persahabatan antarnegara.(*)
