Targetkan 1.000 Petani Muda ke Jepang, Kementan Maksimalkan Kerjasama Dengan JICA
JAKARTA – Untuk mempercepat pembangunan pertanian terutama dalam hal Sumber Daya Manusia, Kementerian Pertanian memasifkan program pengiriman petani muda ke Jepang baik untuk magang maupun pengiriman tenaga kerja terampil bidang pertanian. Untuk itu melalui Japan International Cooperation Agency (JICA), Kementan berharap Pemerintah Jepang bisa menambah kuota program tersebut.
Hal tersebut disampaikan saat JICA mendatangi langsung ke Kementan pada Selasa (21/6/2022), di Ruang Rapat Catur Gatra, Gedung D lantai 6, Kantor Kementan.
Sebelumnya Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyampaikan pentingnya meningkatkan kualitas SDM.
“Kementan selalu berupaya agar kualitas, skill dan pengetahuan petani meningkat. Untuk itu, berbagai program digulirkan untuk mendukung hal tersebut. Salah satunya melalui program magang ke Jepang,” kata Mentan SYL.
Sementara saat menerima delegasi JICA, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyami mengatakan bahwa jalinan kerjasama sudah dilakukannya sejak lama.
“Sebelumnya Saya sering berkomunikasi dan terkait kerjasama dengan Atase pertanian dan Kedubes Jepang Sato San dalam hal mengirimkan Putra-Putri Indonesia untuk magang di Jepang,” kata Dedi.
Dijelaskannya, hingga saat ini Kementan sudah mengirimkan peserta magang berjumlah 1.384 orang, dimana sebelum berangkat peserta diberikan pembekalan dan diklat mengenai bahasa jepang dan teknis pertanian. Bahkan alumni magang jepang saat ini banyak yang sudah mandiri, dan mengembangkan usahanya sekaligus menjadi offtaker untuk menyalurkan produk pertanian seperti alumni yang ada di Cianjur, pangalengan dan lembang.
“Berdasarkan data-data tersebut Kami berharap kerjasama magang bisa dilanjutkan dengan kuota yang lebih besar lagi sesuai dengan target kami 1.000 per tahun sebagaimana yang diinstruksikan oleh Bapak Presiden dan Bapak Menteri Pertanian. Selain itu sesuai tusi kami yaitu Pemberdayaan petani termasuk pelatihan, pembangunan demplot, dan berharap bersama-sama dapat membangun petani milenial yang lebih melek teknologi,” kata Dedi.
Ia menambahkan, magang menjadi salah satu alat untuk menjadikan mereka menjadi petani pengusaha milenial. Setelah itu, dilakukan juga rekruitmen yang dihubungkan dengan mitra untuk membangun usaha.
“Untuk itu, mohon ke JICA agar bisa menjembatani untuk penambahan kuota pengiriman petani muda ke Jepang ditambahkan sesuai target Kementan baik yang magang maupun SSW. Tentunya kita juga akan melibatkan Kementerian/Lembaga terkait seperti Kemenaker, Kemenlu dan BP2MI”, tutur Dedi.
Sedangkan Vice President JICA, Kenchi Shishido, mengatakan sejak tahun 1992 sudah sering bekerjasama dengan Kementerian Pertanian.
“Tujuan JICA sendiri bagaimana sebanyak mungkin petani muda di Indonesia bisa kami terima di Jepang,” katanya.
Kenchi mengatakan, saat ini petani muda yang turun ke pertanian di Jepang semakin berkurang. Untuk itu, Ia mengharapkan ada petani muda dari luar salah satunya dari Indonesia.
“Beberapa waktu terakhir, petani muda Indonesia bisa diterima di sektor Pertanian, beberapa waktu lalu Presiden JICA bertemu dengan Presiden RI membahas agar Indonesia bisa mengirimkan banyak petani muda ke Jepang,” katanya.
Ia menambahkan, ada beberapa sektor yang menjadi Prioritas salah satunya pertanian, dan hal ini sudah dibahas pula dengan Kemenaker.
Kenchi Shishido mengatakan untuk mendukung upaya ini JICA juga mensupport dengan menyediakan expert melalui program IJIHOP yang akan melalukan pendampingan sehingga Alumni magang selama dalam masa magang di Jepang sudah menyiapkan bussiness plan yang akan di implementasikan di Indonesia.
“Expert IJIHOP akan mendampingi para magang agar sepulangnya dari magang di Jepang bisa langsung mempunyai Business Plan dan membangun usaha taninya”
“JICA menegaskan akan mengupayakan secara optimal dan menjembatani penambahan kuota pengiriman petani muda ke Jepang baik untuk magang maupun pekerja migran atau specified skill worker (SSW) sesuai dengan yang ditargetkan Kementan,” ujarnya.
