Ekonomi & BisnisInternasionalPolitik

Dari Energi Hijau ke Komoditas Hijau, Pertamina NRE Dorong Rantai Nilai Berkelanjutan Indonesia

ABU DHABI — Indonesia memiliki peluang besar untuk mengubah potensi energi terbarukan dan kekayaan sumber daya hayati menjadi kekuatan ekonomi baru yang bernilai tambah. Gagasan tersebut disampaikan John Anis, Chief Executive Officer Pertamina New & Renewable Energy (PNRE), dalam forum Global Food Week di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Oktober 2026.

Dalam paparannya bertajuk “Indonesia’s Journey Toward Sustainable Global Value Chains – Green Energy to Green Commodities”, John Anis menegaskan bahwa transisi energi tidak semestinya dipahami sebatas peralihan dari energi fosil menuju energi terbarukan. Transisi tersebut harus mampu menciptakan nilai tambah di dalam negeri, memperkuat ketahanan energi dan pangan, mendorong hilirisasi, membuka lapangan kerja, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sepanjang rantai produksi.

Menurut John, Indonesia memiliki keunggulan besar untuk membangun ekosistem tersebut karena dianugerahi iklim tropis sepanjang tahun serta keragaman bahan baku yang tersebar di berbagai wilayah. Potensi itu mencakup aren, singkong, jagung, sorgum, buah jambu mete dan pongamia, serta hasil samping industri seperti molases, tandan kosong kelapa sawit dan limbah cair pabrik kelapa sawit.

“Masa depan yang lebih bersih merupakan ambisi global, tetapi keberhasilannya ditentukan secara lokal di setiap wilayah,” kata John Anis dalam bagian penutup paparannya.

Menurut dia, prinsip tersebut penting bagi Indonesia karena agenda transisi energi global harus diterjemahkan menjadi kegiatan ekonomi konkret di daerah. Energi bersih harus terhubung dengan potensi pertanian, industri, masyarakat dan sumber daya lokal sehingga manfaat ekonominya tidak berhenti pada produksi energi.

“Energi yang bersih dan terjangkau serta kota-kota yang lebih bersih dapat diwujudkan apabila pemerintah, industri dan daerah berkolaborasi,” ujarnya.

Dalam paparannya, PNRE menyampaikan target pengembangan ekosistem bioethanol dari hulu hingga hilir dengan kapasitas produksi bahan bakar bermutu mencapai 1 juta KLA atau kiloliter per tahun pada 2028. Pengembangan tersebut menggunakan pendekatan multi-bahan baku, multiwilayah dan multigenerasi.

Pengembangan dilakukan berdasarkan potensi masing-masing wilayah. Lampung diproyeksikan memiliki kapasitas sekitar 430.000 KLA, Jawa Barat sekitar 90.000 KLA, sedangkan Jawa Tengah dan Jawa Timur sekitar 261.000 KLA. Pengembangan juga mencakup Sumatera untuk bioethanol generasi kedua, Kalimantan untuk pemanfaatan limbah cair pabrik kelapa sawit dan bioethanol generasi kedua, Sulawesi melalui hilirisasi aren yang terintegrasi dengan energi panas bumi, serta Nusa Tenggara melalui pengembangan sorgum dan buah jambu mete. Papua juga diproyeksikan untuk pengembangan lebih lanjut melalui hilirisasi molases, sorgum dan jagung.

John menjelaskan, pendekatan tersebut bukan sekadar membangun fasilitas produksi bioethanol, melainkan membangun rantai nilai dari hulu hingga hilir.

“Kita tidak boleh melihat bioethanol hanya sebagai bisnis bahan bakar. Ini adalah bisnis rantai nilai. Bahan bakunya dapat menghasilkan bahan bakar, tetapi ekosistem yang sama juga dapat menghasilkan produk pangan, input pertanian dan berbagai komoditas lainnya. Di situlah energi hijau dapat berubah menjadi komoditas hijau,” katanya.

Konsep tersebut tercermin dalam strategi PNRE yang menggunakan berbagai jenis bahan baku, mulai dari molases, aren, singkong, jagung, sorgum, buah jambu mete hingga tandan kosong kelapa sawit. Prosesnya mencakup teknologi generasi pertama dan generasi kedua untuk menghasilkan bioethanol.

Yang menarik, hasil akhirnya tidak berhenti pada bahan bakar. Ekosistem tersebut dapat menghasilkan etanol bahan bakar, bahan bakar untuk memasak dan etanol pangan, sementara produk samping dari bahan baku maupun kilang dapat dikembangkan menjadi gula aren, beras dan tepung sorgum, produk samping jagung, kacang mete, karbon dioksida, pupuk padat dari ampas tebu dan vinase.

“Nilai sebenarnya adalah bagaimana kita memaksimalkan nilai dari setiap molekul dan setiap produk samping. Ketika tidak ada yang terbuang, kita menciptakan ekonomi sirkular, meningkatkan efisiensi dan menghasilkan nilai yang lebih besar bagi masyarakat di sekitar wilayah produksi,” kata John.

Bagi John, pendekatan semacam itu membuat transisi energi memiliki dimensi yang jauh lebih luas. Biofuel bukan hanya instrumen untuk mengurangi emisi, tetapi juga dapat menjadi penggerak ekonomi daerah.

Melalui program biofuel, PNRE menargetkan pengurangan impor bahan bakar melalui produksi bioethanol domestik, peningkatan bauran bahan bakar terbarukan, dukungan terhadap implementasi E50, serta diversifikasi sumber energi melalui pemanfaatan berbagai jenis bahan baku. Pada saat yang sama, program tersebut diarahkan untuk menciptakan nilai melalui integrasi pangan dan energi, memperkuat ekosistem petani dan industri pertanian domestik, serta memaksimalkan potensi ekonomi produk samping.

“Ketahanan energi dan ketahanan pangan tidak seharusnya dipandang sebagai dua agenda yang saling bersaing. Dengan teknologi yang tepat dan rantai nilai yang terintegrasi, keduanya justru dapat saling memperkuat,” ujarnya.

Dalam konteks itu, PNRE juga membuka peluang kolaborasi untuk mengembangkan produk organik dan berkelanjutan yang berasal dari ekosistem biofuel. Gula aren, beras dan tepung sorgum, kacang mete, vinase serta pupuk padat dari ampas tebu menjadi bagian dari potensi pengembangan produk yang dapat memiliki nilai ekonomi baru.

PNRE menyatakan terbuka untuk bekerja sama dengan calon pembeli produk tersebut guna mengembangkan produk organik dan berkelanjutan yang sekaligus mendukung ekosistem biofuel serta meningkatkan penghidupan jutaan petani di Indonesia.

John melihat pendekatan tersebut sebagai bentuk nyata hilirisasi yang tidak berhenti pada pengolahan bahan mentah menjadi satu produk. Hilirisasi harus menciptakan sebanyak mungkin nilai dari sumber daya yang dimiliki Indonesia.

“Jika kita ingin membangun rantai nilai global yang berkelanjutan, kita harus memulainya dengan menciptakan rantai nilai lokal yang berkelanjutan. Petani, industri, penyedia teknologi, investor dan pemerintah harus terhubung. Dengan cara itulah keberlanjutan berubah menjadi kenyataan ekonomi,” tutur John.

Karena itu, pengembangan biofuel juga dipandang dapat mempercepat dekarbonisasi sektor transportasi dan infrastruktur pendukung, menciptakan lapangan kerja serta industri lokal di sepanjang rantai nilai bioethanol, sekaligus mendorong investasi dan teknologi untuk membangun kemampuan domestik.

Paparan John Anis di Abu Dhabi pada akhirnya membawa pesan strategis bahwa Indonesia tidak cukup hanya menjadi pengguna energi bersih atau pemasok bahan mentah bagi ekonomi hijau dunia. Indonesia memiliki peluang untuk menjadi produsen energi bersih sekaligus pencipta komoditas hijau bernilai tambah.

Dari bioethanol hingga produk pangan dan pupuk organik, transformasi tersebut dapat mempertemukan kepentingan ketahanan energi, ketahanan pangan, hilirisasi, dekarbonisasi dan pembangunan ekonomi daerah.

Dengan memanfaatkan keragaman bahan baku, teknologi, kekuatan industri dan potensi daerah, Indonesia dapat membangun rantai nilai yang menghubungkan petani dengan industri, energi dengan pangan, serta ekonomi lokal dengan pasar global.

Inilah substansi utama gagasan “Dari Energi Hijau ke Komoditas Hijau” yang dibawa John Anis dalam forum Global Food Week di Abu Dhabi: transisi energi bukan hanya tentang menghasilkan energi yang lebih bersih, tetapi juga tentang menciptakan nilai ekonomi baru dari sumber daya lokal dan memastikan manfaatnya tumbuh bersama masyarakat Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *