Riset ENSO dan AI Perkuat Kesiapsiagaan Indonesia Menghadapi El Niño 2026
Honolulu, Hawaii, 8 Juli 2026 — Penguatan kerja sama riset internasional di bidang iklim menjadi langkah penting dalam meningkatkan kesiapsiagaan Indonesia menghadapi potensi El Niño 2026. University of Hawaiʻi at Mānoa memaparkan perkembangan terbaru penelitian mengenai variabilitas El Niño–Southern Oscillation (ENSO), interaksi tropis-ekstratropis, serta pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk meningkatkan akurasi prediksi iklim kepada delegasi Kedutaan Besar Republik Indonesia di Washington DC dalam kunjungan ke kampus tersebut.
Paparan yang dipimpin Dekan School of Ocean and Earth Science and Technology, Prof. Charles Fletcher, bersama Prof. Christina Karamperidou dari Department of Atmospheric Sciences, menunjukkan prediksi awal bahwa fenomena El Niño diperkirakan mulai berkembang pada September–Oktober 2026 dan berpotensi menguat hingga Desember 2026. Para peneliti menekankan bahwa yang paling menentukan bukan sekadar muncul atau tidaknya El Niño, melainkan karakteristik dan intensitasnya, karena setiap tipe ENSO memberikan dampak yang berbeda terhadap pola curah hujan di Indonesia.
Bagi Indonesia, El Niño berpotensi memicu musim kemarau yang lebih panjang, terutama di Pulau Jawa, Nusa Tenggara, dan kawasan timur Indonesia. Kondisi tersebut dapat berdampak pada ketahanan pangan akibat penurunan produksi pertanian, berkurangnya ketersediaan air bersih, meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan, hingga bertambahnya kebutuhan energi di berbagai wilayah.
Selain memaparkan perkembangan riset, University of Hawaiʻi juga menawarkan kerja sama dengan berbagai lembaga di Indonesia untuk memperdalam pemahaman mengenai mekanisme ENSO dan mengembangkan model prediksi berbasis machine learning. Pemanfaatan teknologi AI dinilai mampu meningkatkan akurasi sistem peringatan dini kekeringan, memprediksi potensi banjir ekstrem, merekonstruksi data paleoklimat, serta mengkaji pengaruh aktivitas vulkanik terhadap monsun dan ENSO, yang sangat relevan bagi Indonesia sebagai negara kepulauan dengan aktivitas gunung api yang tinggi.
Peluang kolaborasi juga dibahas bersama sejumlah institusi nasional, antara lain Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kementerian Pertanian, Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Kerja sama tersebut diharapkan menghasilkan pengembangan sistem peringatan dini, publikasi ilmiah bersama, penguatan kapasitas sumber daya manusia, serta transfer teknologi di bidang kecerdasan buatan untuk ilmu kebumian dan iklim.
Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo, menyambut positif tawaran tersebut dan mengundang para pakar University of Hawaiʻi untuk segera memaparkan perkembangan terbaru El Niño 2026 kepada para ilmuwan Indonesia melalui pertemuan daring.
«”Kolaborasi riset ini akan memperkuat kemampuan Indonesia dalam memahami dinamika ENSO, meningkatkan akurasi prediksi iklim, sekaligus menjadi dasar yang lebih kuat bagi penyusunan kebijakan adaptasi untuk mengurangi dampak sosial dan ekonomi akibat El Niño 2026 maupun variabilitas iklim di masa mendatang.”»
Sinergi antara keunggulan riset University of Hawaiʻi dalam memahami proses fisik ENSO dengan data lapangan, pengalaman, dan kebutuhan Indonesia di bidang mitigasi risiko diharapkan menghasilkan sistem prediksi yang semakin akurat serta mendukung pengambilan kebijakan yang berbasis sains dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.
