Bang Azran: BUMD DKI Harus Bertransformasi Menjadi Motor Ekonomi yang Kompetitif dan Naik Kelas
Jakarta — Anggota DPD RI/MPR RI, Achmad Azran (Bang Azran), menyambut positif inisiatif Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menyelenggarakan BUMD Leaders Forum sebagai langkah strategis memperkuat peran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) sebagai pilar ekonomi daerah, beberapa waktu lalu.
Menurut Bang Azran, forum tersebut tidak boleh berhenti pada tataran seremonial, tetapi harus menjadi momentum konsolidasi nyata untuk mendorong transformasi BUMD agar lebih profesional, transparan, dan berdaya saing tinggi.
“BUMD DKI Jakarta memiliki potensi besar untuk menjadi lokomotif ekonomi daerah. Namun, potensi ini harus diiringi dengan pembenahan tata kelola, penguatan inovasi, dan keberanian melakukan reformasi struktural,” ujar Bang Azran, Rabu, 22 April 2026.
Pria asli Betawi itu menyoroti bahwa keberhasilan pengelolaan entitas publik di berbagai kota dunia menunjukkan pentingnya integrasi antara visi bisnis dan kepentingan publik. Pengalaman kota-kota maju di negara lain menunjukkan bahwa perusahaan daerah dapat menjadi instrumen efektif dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kualitas layanan publik apabila dikelola secara profesional dan berbasis kinerja.
Bang Azran menegaskan bahwa BUMD tidak boleh hanya menjadi “pelengkap” dalam struktur ekonomi daerah, melainkan harus menjadi champion di sektor strategis seperti transportasi, energi, pangan, hingga layanan keuangan daerah.
“BUMD harus naik kelas. Tidak cukup hanya sehat secara administratif, tetapi juga harus unggul secara kompetitif. Mereka harus mampu bersaing, berinovasi, dan memberikan kontribusi signifikan terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD),” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya penerapan prinsip good corporate governance, digitalisasi layanan, serta penguatan sumber daya manusia sebagai fondasi utama transformasi BUMD.
Bang Azran juga mengingatkan agar pemerintah daerah berani melakukan evaluasi menyeluruh terhadap BUMD yang tidak produktif.
“Harus ada keberanian untuk melakukan restrukturisasi, bahkan jika perlu konsolidasi atau revitalisasi. BUMD yang tidak adaptif akan menjadi beban fiskal, bukan solusi ekonomi,” tambahnya.
Sebagai penutup, ayah empat anak dan tiga cucu itu mendorong agar BUMD Leaders Forum menghasilkan peta jalan (roadmap) yang konkret dan terukur, sehingga BUMD DKI Jakarta benar-benar mampu menjadi andalan ekonomi daerah dan model nasional dalam pengelolaan perusahaan milik pemerintah daerah.
“Ini saatnya BUMD DKI menjadi contoh. Bukan hanya besar karena modal, tetapi kuat karena tata kelola, inovasi, dan dampak nyata bagi masyarakat,” pungkasnya.
