Hadirkan Jagung Berkualitas, Kementan Perkenalkan Teknik Pascapanen Ala Milenial
JAKARTA – Pandemi Covid-19 yang masih berlangsung hingga tahun 2022 ikut memengaruhi ketersediaan pangan dunia. Untuk itu, Kementerian Pertanian memperkuat diversifikasi pangan lokal demi menjaga ketahanan pangan. Salah satunya adalah jagung.
Kementerian Pertanian menargetkan produksi jagung nasional di tahun 2022 mencapai 23,1 juta ton kadar air (KA) 25 persen atau setara 20,1 juta ton KA 15 persen.
Sedangkan kebutuhan bahan baku jagung untuk industri pangan Indonesia di tahun 2022 diperkirakan meningkat menjadi sekitar 1,5 – 1,6 juta dari sebelumnya 1,2 juta ton pada tahun 2021.
Jagung memiliki arti penting dalam pengembangan industri di Indonesia karena merupakan bahan baku untuk industri pangan maupun industri pakan ternak khusus pakan ayam. Kedudukannya sebagai salah satu sumber pangan utama mempunyai peluang yang tinggi untuk dikembangkan menjadi bahan baku industri pengolahan pangan.
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan jika menanam jagung harus dihitung juga keuntungannya.
“Harus ada dihitung hasilnya berapa. Setelah itu hitung apa yang harus dilakukan. Kita harus tingkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani,” ujar Mentan SYL.
Menurutnya, banyak lahan yang bagus, namun untuk lebih bagus lagi dengan menggunakan mesin pertanian modern. Petani juga harus menggunakan benih berkualitas dan pemupukan yang tepat dan berimbang.
“Tanah dan manusia telah bagus. Tinggal intervensi, Sumber daya manusia semakin terampil, teknologi, mekanisasi dan market tablenya seperti apa,” ujar Mentan lagi.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, merinci hal itu.
“Penanganan pascapanen merupakan salah satu mata rantai penting dalam usahatani jagung. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa petani umumnya memanen jagung ketika musim hujan dengan kondisi lingkungan yang lembab dan curah hujan yang tinggi. Kadar air jagung yang dipanen pada musim hujan umumnya masih tinggi dan berkisar antara 25 – 35%. Apabila tidak ditangani dengan baik, jagung berpeluang terinfeksi cendawan yang menghasilkan mikotoksin jenis aflatoksin,” ujar Dedi.
Melalui “Bertani On Cloud vol. 184” dengan tema “Teknik Pascapanen Jagung Ala Milenial, untuk Jagung Kualitas Premium” Duta Petani Milenial Firminus Dodi, binaan Balai Besar Pelatihan Pertanian Binuang, berbagi ilmu tentang penanganan pascapanen yang baik dan benar.
Sehingga diharapkan akan meningkatkan standardisasi mutu sehingga jagung yang dihasilkan memiliki kualitas premium.
Di Indonesia, standar mengenai kandungan aflatoksin total jagung untuk pangan maupun pakan telah diatur dalam SNI 8926:2020 tentang Jagung, yaitu sebesar 20 ppb untuk pangan dan 100 ppb untuk pakan.
Untuk mendapatkan jagung dengan kandungan kadar aflatoksin total di bawah 20 ppb, jagung hasil panen harus segera dikeringkan dan disimpan di tempat yang tidak banyak terdapat kandungan uap air;
Proses pascapanen jagung terdiri atas serangkaian kegiatan yang dimulai dari pemetikan dan pengeringan tongkol, pemipilan tongkol, pengemasan biji, dan penyimpanan sebelum dijual ke pedagang pengumpul.
Semua proses tersebut apabila tidak tertangani dengan baik akan menurunkan kualitas produk karena mengalami perubahan warna biji akibat terinfeksi cendawan, mengalami pembusukan, tercampur benda asing, dan membahayakan kesehatan;
Tanaman jagung mempunyai banyak manfaat, sebab hampir seluruh bagian tanaman dapat digunakan untuk berbagai keperluan antara lain batang dan daun muda dapat dijadikan pakan ternak, batang dan daun tua (setelah panen) dapat dikonversi menjadi pupuk kompos, batang dan daun kering dapat dijadikan kayu bakar, batang jagung dapat dijadikan lanjaran (turus), batang jagung (pulp) dapat diproses menjadi bahan kertas dan buah jagung muda (putren) dapat diolah menjadi lauk pauk yang dapat dijual dan mendapat keuntungan.
Pemenuhan konsumsi menuntut adanya proses perbaikan pascapanen jagung untuk menghasilkan biji yang aman dikonsumsi oleh manusia maupun ternak.
Teknologi penanganan pascapanen jagung diperlukan terutama di tingkat petani untuk menghasilkan produk yang lebih kompetitif dan mampu bersaing di pasar bebas.
