Ekonomi & BisnisInternasionalPariwisataPolitik

Buka Peluang Musisi Samosir Menembus Pasar Lebih Luas, Kemenekraf Gelar Akselerasi Kreatif Musik

SAMOSIR — Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia terus mendorong pengembangan potensi musisi daerah agar mampu bersaing di industri musik nasional hingga internasional. Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Aktivasi Creative Hub Akselerasi Kreatif (AKTIF) Musik: Diskusi Industri Musik dan Showcase Musisi Lokal yang diselenggarakan Direktorat Musik di Willem’s Cafe, Kabupaten Samosir, Senin (19/10/2026).

Kegiatan ini diikuti 50 peserta yang terdiri atas perwakilan grup musik dan pelaku seni lokal, di antaranya D’Jure Band, De’Gorga Band, Napuran Band, Tjiwa Band, JN_ARTNEST Band, Sanggar Seni Budaya IN_ARNEST, serta sejumlah musisi lainnya.

Sambutan tertulis Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Samosir yang dibacakan Sekretaris Dinas, Jhunelis, A.Pi., M.ST.Pi., menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Ekonomi Kreatif atas komitmennya dalam menyediakan ruang bagi musisi, komunitas, dan pelaku industri kreatif untuk meningkatkan kapasitas sekaligus memperluas jejaring profesional.

Menurutnya, kegiatan ini memiliki arti penting bagi Kabupaten Samosir yang telah ditetapkan sebagai salah satu Kabupaten/Kota Kreatif Subsektor Seni Pertunjukan. Momentum tersebut diharapkan dapat memperkuat sinergi antara pemerintah, komunitas, seniman, pelaku usaha, dan generasi muda dalam mengembangkan ekosistem ekonomi kreatif.

Pemerintah daerah berharap para musisi tidak hanya memperoleh ruang untuk menampilkan karya, tetapi juga mendapatkan pengetahuan dan keterampilan praktis agar musik dapat dikembangkan sebagai profesi berkelanjutan yang mampu meningkatkan kesejahteraan ekonomi.

Bagi masyarakat Samosir, musik bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari identitas budaya, ruang ekspresi, media komunikasi antargenerasi, sekaligus peluang ekonomi yang potensial.

Pemerintah Kabupaten Samosir juga berkomitmen menjaga keberlanjutan ekosistem musik dan seni pertunjukan. Saat ini, tercatat 63 komunitas dan sanggar seni yang berperan penting dalam menjaga eksistensi seni budaya di Samosir. Daerah ini juga konsisten menyelenggarakan berbagai agenda musik dan budaya, termasuk perhelatan berskala internasional seperti Samosir Music International.

Sementara itu, Ranggapadni Nariswari, Adyatama Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Ahli Muda, menyampaikan laporan kegiatan yang menjelaskan bahwa program AKTIF Musik dirancang untuk meningkatkan kompetensi musisi daerah, mengoptimalkan potensi lokal, serta membuka peluang karier dan akses pasar yang lebih luas.

Samosir dipilih sebagai lokasi kegiatan karena memiliki potensi musik yang besar, ditopang kekayaan warisan budaya dan melimpahnya talenta lokal. Namun, potensi tersebut perlu diperkuat melalui pembinaan ekosistem musik secara menyeluruh, mulai dari penciptaan karya, distribusi digital, strategi promosi, hingga pengelolaan hak cipta dan royalti.

Diskusi ini berfokus pada tiga hal utama, yakni pemetaan potensi musik lokal, pemanfaatan platform digital untuk distribusi dan komersialisasi karya, serta pembukaan akses bagi musisi Indonesia untuk menembus panggung internasional.

Melalui kegiatan tersebut, para musisi diharapkan semakin memahami dinamika industri musik, mampu mengembangkan karya secara profesional, serta memperoleh apresiasi yang layak atas kreativitas mereka.

Ketua Dewan Kesenian Samosir, Charles Malau, yang menjadi pemateri pertama, menegaskan bahwa Samosir memiliki fondasi musik yang kuat berkat kekayaan tradisi, keberagaman instrumen, karakter bunyi yang khas, nilai filosofis, dan warisan budaya yang masih hidup di tengah masyarakat.

Selain musik tradisional, Samosir juga memiliki keberagaman genre dan karakter vokal yang kuat. Dalam kehidupan masyarakat Batak, musik bahkan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari berbagai aktivitas sosial dan budaya.

Charles menilai melimpahnya talenta lokal merupakan modal penting untuk mengembangkan industri musik daerah. Namun, potensi tersebut harus diiringi semangat kolaborasi dan kemauan untuk terus meningkatkan kualitas.

“Bakat membuat kita dikenal, tetapi kolaborasilah yang membuat kita berkembang,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya media sosial dan platform digital sebagai sarana memperluas jangkauan karya musisi. Menurutnya, keberadaan kanal digital menjadi kebutuhan penting agar karya musik lokal dapat diakses oleh masyarakat yang lebih luas.

“Sungguh sebuah kerugian jika di era sekarang ada grup band atau musisi yang belum memiliki saluran YouTube resmi. Padahal, platform digital adalah etalase dan media terbaik saat ini untuk memperkenalkan karya ke khalayak luas,” kata Charles.

Pandangan serupa disampaikan Ketua Humas dan Media DPP Persatuan Artis, Penyanyi, Pencipta Lagu, Pemusik Republik Indonesia (PAPPRI), Buddy Ace. Ia mendorong musisi Samosir untuk terus meningkatkan kualitas materi lagu sekaligus mengembangkan karya yang berakar pada kekayaan musik daerah.

Buddy menilai penggarapan ulang atau aransemen baru terhadap lagu-lagu Batak dapat menjadi salah satu strategi untuk memperkuat identitas musik lokal sekaligus meningkatkan daya saing di industri modern.

“Sebagai contoh, kita masih minim dalam melakukan modifikasi atau aransemen ulang atas lagu-lagu Batak. Lalu, mengapa kita sering kali ngotot membawakan lagu orang lain atau lagu daerah luar? Apakah karena gengsi?” cetusnya.

Ia menegaskan bahwa penguatan kualitas karya, pelestarian identitas musik daerah, dan pemanfaatan media sosial secara optimal dapat meningkatkan posisi tawar musisi lokal di industri musik.

“Ketika karya kita telah ditingkatkan kualitasnya, dengan tetap mengangkat akar lagu daerah sendiri serta didukung optimalisasi media sosial, di situlah kita akan memiliki bargaining position atau daya tawar yang kuat di industri,” ujar Buddy.

Sementara itu, Creative and Event Director Jerry Hend menilai kegiatan ini menjadi langkah penting untuk memperkuat ekosistem musik lokal sekaligus membuka akses yang lebih terstruktur menuju industri musik nasional.

Jerry juga menyatakan kesiapannya membantu menjembatani karya musisi Samosir agar dapat menjangkau pasar Malaysia, sejalan dengan upaya yang telah dirintisnya selama ini.

Selain membahas strategi pengembangan industri musik, Jerry turut mengangkat pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam proses kreatif. Ia mengingatkan para seniman agar tidak memandang perkembangan teknologi tersebut semata-mata sebagai ancaman, melainkan sebagai alat bantu untuk memperkaya proses penciptaan karya.

“Jangan memandang AI sebagai pemicu ancaman, tetapi jadikanlah ia sebagai alat bantu, rekan diskusi, dan sumber inspirasi untuk melahirkan karya-karya yang makin berkualitas,” tuturnya.

Antusiasme peserta juga terlihat dalam sesi dialog interaktif. Salah seorang peserta, Manogu Sinaga, mempertanyakan langkah konkret yang dapat ditempuh agar karya musisi lokal memperoleh apresiasi lebih baik, mendapatkan standar honorarium yang layak, serta memiliki kesempatan tampil dalam berbagai ajang seni dan budaya.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Charles Malau menekankan pentingnya konsistensi berkarya, peningkatan kualitas materi musik secara berkelanjutan, serta keaktifan mempromosikan karya melalui platform digital. Menurutnya, ketiga hal tersebut menjadi bagian penting dalam membangun reputasi dan meningkatkan daya saing musisi.

Rangkaian kegiatan juga diisi dengan sesi showcase yang memberikan kesempatan kepada grup band dan musisi lokal untuk menampilkan karya terbaik mereka di hadapan peserta dan narasumber. Sesi ini menjadi ruang bagi para musisi untuk memperlihatkan karakter, kreativitas, dan potensi yang dimiliki.

Salah satu momen penting terjadi ketika Buddy Ace meminta para peserta segera menyiapkan portofolio karya dan proposal resmi. Dokumen tersebut direncanakan menjadi bahan untuk dibawa dalam pertemuan khusus bersama para pemangku kebijakan di pemerintah pusat dan pengambil keputusan di industri musik nasional.

Komitmen tersebut disambut tepuk tangan meriah dari para peserta. Bagi musisi lokal, langkah ini membuka harapan baru agar karya yang selama ini berkembang di daerah dapat memperoleh perhatian lebih luas dan kesempatan memasuki pasar yang lebih besar.

Manfaat kegiatan turut dirasakan Marvin Naibaho, personel JN_ARTNEST Band. Ia mengaku memperoleh wawasan baru, terutama mengenai strategi pengembangan diri, promosi karya, dan peluang untuk menjangkau panggung pertunjukan yang lebih luas.

“Wawasan saya terbuka lebar, khususnya mengenai strategi pengembangan diri dan akses menuju panggung yang lebih besar. Setelah pelatihan ini, kami makin optimistis grup band kami dapat merambah panggung-panggung pertunjukan yang lebih luas, setidaknya di tingkat Sumatera Utara,” ungkap Marvin.

Melalui program AKTIF Musik, potensi musikal Samosir diharapkan tidak hanya menjadi kekuatan dalam pelestarian budaya, tetapi juga berkembang menjadi bagian dari industri kreatif yang profesional dan berkelanjutan. Dengan dukungan pembinaan, kolaborasi, penguatan kualitas karya, serta pemanfaatan teknologi digital, musisi lokal memiliki peluang lebih besar untuk memperluas jangkauan pasar dan membawa kekayaan musik Samosir ke panggung nasional maupun internasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *