Ekonomi & BisnisPariwisata

Kemenekraf Gelar Nusantara Culinary Lab di Parapat, Bantu Kuliner Lokal Naik Kelas

PARAPAT – Kuliner lokal tak cukup hanya mengandalkan cita rasa. Branding, pemasaran digital, hingga pengelolaan keuangan menjadi kunci agar produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mampu menembus pasar yang lebih luas. Inilah yang menjadi fokus Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf/Bekraf) melalui program Nusantara Culinary Lab di Parapat, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.

Program yang digelar Direktorat Kuliner Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain pada 16–17 Oktober 2026 di Mess Pora Pora Parapat tersebut dirancang untuk memperkuat kapasitas pelaku ekonomi kreatif subsektor kuliner. Peserta dibekali pengetahuan mengenai fundamental bisnis, standardisasi produk, pemetaan pasar, strategi pemasaran digital, hingga pengelolaan keuangan.

Parapat yang menjadi salah satu pintu gerbang pariwisata Danau Toba dinilai memiliki potensi besar untuk mengembangkan produk kuliner khas daerah. Potensi tersebut perlu diolah agar tidak hanya dinikmati wisatawan saat berkunjung, tetapi juga dapat dibawa pulang sebagai buah tangan dan dipasarkan ke berbagai daerah.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Simalungun, melalui Kepala Bidang Pengembangan Produk Pariwisata Dian Pratiwi, menyambut baik penyelenggaraan program tersebut. Dia berharap kegiatan ini mampu mendorong pelaku usaha lokal mengembangkan produk yang memiliki nilai tambah dan daya saing.

“Nah, kita sekarang berada di pintu surga. Artinya, Parapat ini adalah pintu gerbang pariwisata menuju beberapa kabupaten di Kawasan Danau Toba,” ujar Dian.

Menurut dia, kuliner bukan semata-mata bisnis makanan dan minuman. Di dalamnya terdapat identitas budaya, kreativitas, inovasi, serta kekayaan lokal yang dapat menjadi kebanggaan masyarakat sekaligus sumber pertumbuhan ekonomi daerah.

Karena itu, pelaku usaha perlu berani meningkatkan kualitas produk dan memperluas jangkauan pemasaran. Produk kuliner khas Simalungun dan kawasan Danau Toba diharapkan mampu bersaing di luar daerah, bahkan menembus pasar nasional.

“Misalkan, produk kita bisa dibawa Ibu Ayu ke Jakarta, itu kan juga jadi sebuah kehormatan untuk kita,” katanya.

Dian juga mengingatkan pelaku usaha agar tidak berhenti berinovasi di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat. Perubahan selera konsumen dan perkembangan teknologi menuntut UMKM terus belajar, beradaptasi, serta membangun jejaring kolaborasi.

Sementara itu, Staf Ahli Bidang Kekayaan Intelektual dan Transformasi Digital Kemenekraf/Bekraf Agustini Rahayu menegaskan bahwa Nusantara Culinary Lab bukan sekadar pelatihan untuk meningkatkan keterampilan pelaku usaha. Program ini menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan.

Dia menyebut subsektor kuliner sebagai salah satu dari tiga kontributor terbesar dalam industri kreatif nasional. Posisi tersebut menunjukkan bahwa pengembangan kuliner lokal memiliki peluang besar untuk memperkuat perekonomian, terutama di daerah tujuan wisata seperti Parapat.

“Orang tidak akan balik lagi kalau dia tidak terkenang dan terkesan dengan rasa yang pernah dia nikmati di sini,” tegas Agustini.

Menurut dia, pengalaman kuliner menjadi salah satu faktor yang dapat meninggalkan kesan bagi wisatawan. Karena itu, produk lokal perlu memiliki kualitas yang konsisten, identitas merek yang kuat, serta kemasan yang menarik agar mampu menjadi bagian dari pengalaman berwisata.

Kemenekraf menghadirkan dua praktisi untuk memberikan pembekalan langsung kepada peserta. Mereka adalah Nilamsari dari NSK Consulting yang membawakan materi branding dan strategi pemasaran digital, serta Arief Ardinugroho, Komisaris Akademi Untuk Funding, yang mengulas manajemen keuangan dan strategi bisnis sederhana.

Dalam sesi branding dan digital marketing, peserta mendapatkan pendampingan mengenai pemilihan warna merek, perancangan logo, pengelolaan akun media sosial, hingga pemanfaatan WhatsApp Business. Materi disampaikan secara interaktif sehingga peserta dapat langsung berkonsultasi mengenai persoalan yang dihadapi dalam mengembangkan usaha.

Hera Hutajulu, pemilik Boruku Bakes Parapat, misalnya, meminta Nilamsari meninjau tampilan akun Instagram bisnisnya. Masukan diberikan secara langsung untuk memperbaiki estetika dan meningkatkan daya tarik akun tersebut.

Hal serupa dilakukan Rolysta Lumbantoruan, pemilik Rolys Bakery. Dia memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mendapatkan evaluasi terhadap akun media sosial usahanya.

Pendekatan praktik langsung itu memberikan ruang bagi peserta untuk memahami bahwa pemasaran digital bukan sekadar mengunggah foto produk. Identitas visual, konsistensi komunikasi, serta kemampuan membangun cerita di balik produk juga berperan penting dalam menarik perhatian konsumen.

Pada sesi berikutnya, Arief Ardinugroho mengajak peserta membenahi pengelolaan keuangan usaha. Salah satu persoalan mendasar yang disoroti adalah kebiasaan mencampur uang pribadi dengan uang bisnis.

“Salah satu hal simpel yang mungkin Bapak-Ibu sekalian tidak lakukan adalah memisahkan rekening usaha dan rekening pribadi,” jelas Arief.

Peserta juga mempelajari cara menghitung harga pokok penjualan (HPP) dan titik impas atau break-even point (BEP). Kedua komponen tersebut penting untuk mengetahui biaya produksi, menentukan harga jual, serta menilai kemampuan usaha menghasilkan keuntungan.

Selain itu, peserta diperkenalkan dengan aplikasi ESB POS untuk membantu pencatatan transaksi penjualan. Pemanfaatan perangkat digital diharapkan membuat pengelolaan usaha lebih tertib, terukur, dan mudah dievaluasi.

Bagi Martalena Manalu, salah seorang peserta, materi yang diberikan membuka perspektif baru dalam mengembangkan bisnis. Dia mengaku lebih memahami pentingnya pengelolaan media sosial secara profesional dan semakin percaya diri memasarkan produknya melalui platform digital.

Martalena turut memperkenalkan keripik ikan red devil hasil produksinya kepada Nilamsari. Produk tersebut mendapat respons positif dari sisi cita rasa. Namun, pengembangan lebih lanjut tetap diperlukan, terutama dalam menentukan nama merek yang mudah diingat, merancang kemasan, serta menyusun cerita produk yang menarik.

Pendampingan semacam ini memperlihatkan bahwa potensi kuliner lokal tidak berhenti pada keunikan bahan baku atau rasa. Kemampuan mengemas nilai produk dan mengomunikasikannya kepada konsumen menjadi bagian penting untuk memperluas pasar.

Agustini menegaskan, Kemenekraf ingin memastikan pendampingan kepada pelaku usaha tidak berhenti ketika kegiatan pelatihan selesai. Penguatan kapasitas perlu diikuti dengan pengembangan ekosistem, mulai dari digitalisasi, perlindungan kekayaan intelektual, hingga pembukaan akses distribusi dan komersialisasi.

“Program ini sekarang tidak hit and run. Jadi berkelanjutan. Berkelanjutan itu ekosistemnya, rantai nilai kreatifnya, semua terpenuhi. Hingga terbuka jalur distribusi dan komersialisasi untuk teman-teman ini,” papar Agustini.

Dia menjelaskan, Kemenekraf memiliki Direktorat Fasilitasi Kekayaan Intelektual serta dukungan fungsi pemasaran yang dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat nilai ekonomi produk kreatif. Pengetahuan mengenai kekayaan intelektual juga penting untuk membantu pelaku usaha melindungi identitas dan karya mereka, termasuk potensi resep khas daerah.

Menurut Agustini, penguatan tersebut membutuhkan proses panjang dan konsistensi. Pelaku usaha harus terus belajar, memperkuat merek, menjaga kualitas produk, serta memanfaatkan peluang pasar yang tersedia.

“Pak Menteri ini sangat serius untuk melakukan hal-hal ini karena ingin sektor atau industri kreatif ini menjadi the new engine of growth, mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional,” ujarnya.

Melalui Nusantara Culinary Lab, Kemenekraf berharap pelaku kuliner di Parapat dan sekitarnya tidak hanya mampu mempertahankan usaha, tetapi juga berkembang menjadi bisnis yang profesional dan berdaya saing. Dengan dukungan kapasitas bisnis, teknologi digital, serta perlindungan kekayaan intelektual, cita rasa khas Danau Toba diharapkan dapat menjangkau pasar nasional hingga global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *