Ekonomi & BisnisNasional

Diskusi BACenter: Ketenagakerjaan dan Investasi Dinilai Menjadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Jakarta — BACenter menggelar diskusi strategis bertema “Ketenagakerjaan dan Investasi sebagai Penopang Pertumbuhan Ekonomi Nasional”. Acara ini mempertemukan para pemangku kepentingan untuk membahas tantangan, peluang, dan strategi nasional dalam memperkuat tenaga kerja dan meningkatkan iklim investasi Indonesia. Diskusi berlangsung dinamis dengan kehadiran Wakil Menteri Ketenagakerjaan RI Afriansyah Noor, Deputi Bidang Pengembangan Iklim Penanaman Modal Kementerian Investasi/Hilirisasi RI Riyatno, serta tokoh ekonomi nasional Burhanuddin Abdullah.

‎Dalam sambutannya, Wamenaker Afriansyah Noor menyoroti pentingnya keadilan dalam rekrutmen tenaga kerja, terutama dalam kaitannya dengan tenaga kerja asing (TKA).

‎“Ketika rekrutmen tenaga kerja tidak adil dan banyak TKA diserap tidak sebanding dengan tenaga kerja lokal, tentu ini merugikan kita. Bahkan banyak PNBP yang hilang,” ujarnya. Afriansyah menegaskan bahwa hilirisasi seharusnya dibangun untuk menyerap tenaga kerja lokal sekaligus memastikan adanya transfer of knowledge dari TKA.

‎Beliau juga memaparkan sejumlah program strategis Kementerian Ketenagakerjaan, seperti Magang Nasional, Tenaga Kerja Mandiri, Padat Karya, serta penguatan balai pelatihan di 12 provinsi. Terkait kebijakan UMP, ia menyampaikan bahwa pemerintah berhati-hati dalam mengambil keputusan.

‎“Jangan sampai presiden salah memutuskan. Keputusan harus adil bagi pekerja maupun pengusaha,” tegasnya.

‎Sementara itu, Deputi Riyatno menyampaikan perkembangan investasi dan hilirisasi nasional. Ia menekankan bahwa investasi bukan sekadar angka, tetapi juga menyangkut peningkatan kualitas manusia.

‎“Investasi tidak hanya bicara tentang angka, melainkan tentang manusia,” kata Riyatno.

‎Ia memaparkan bahwa realisasi investasi Januari–September 2025 telah mencapai Rp 1.434,3 triliun dari target Rp 1.905,6 triliun, dengan sektor mineral sebagai penyumbang terbesar. Ia juga menegaskan komitmen pemerintah untuk mendukung UMKM melalui perizinan berbasis digital, sistem service level agreement, dan penerapan fiktif positif.

‎Terkait kritik peserta terhadap minimnya investasi padat karya, Riyatno menjelaskan,

‎“Realisasi investasi memang naik, namun banyak investasi yang masuk bukan lagi padat karya akibat perkembangan digitalisasi.”

‎Diskusi semakin menarik saat Burhanuddin Abdullah memberi pandangan tajam mengenai digitalisasi dan efisiensi industri.

‎“Dengan digitalisasi, kita bisa menurunkan ICOR dan menjadi lebih efisien. Namun perizinan yang berbelit masih menjadi hambatan besar bagi investasi,” jelasnya. Ia menegaskan pentingnya reformasi perizinan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

‎Sesi tanya jawab berlangsung kritis dengan berbagai masukan dari akademisi, pelaku usaha, dan peserta diskusi. Beragam isu diangkat, mulai dari rendahnya daya serap tenaga kerja, minimnya investasi kelas dunia, hingga belum optimalnya investasi berbasis teknologi dan industri yang ramah lingkungan. Para peserta juga menyinggung pentingnya menarik investasi sektor pariwisata dan sport industry yang dinilai ramah lingkungan serta bernilai ekonomi tinggi.

‎Acara ini ditutup dengan komitmen BACenter untuk terus menjadi ruang diskusi yang objektif dan konstruktif. BACenter juga memperkenalkan buku Asta Cita sebagai kontribusi pemikiran bagi agenda pembangunan nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *