Nasional

MMD 862 Universitas Brawijaya Sulap Limbah Minyak Jelantah Menjadi Lilin Aromaterapi

Program Mahasiswa Membangun Desa (MMD) yang diselenggarakan oleh Universitas Brawijaya (UB) kelompok MMD 862 Desa Manjung. Kami melaksanakan workshop yang bertema “Pengolahan Limbah secara Sains” dengan memanfaatkan limbah rumah tangga berupa minyak jelantah yang dapat disulap menjadi lilin aroma terapi. Kegiatan ini berlangsung pada Hari Rabu, 12 Juli 2023. Sosialisasi ini dilaksanakan di Balai Desa Manjung, Kecamatan Panekan Kabupaten Magetan, dengan sasaran utama Ibu PKK setempat.

Minyak jelantah atau minyak sisa hasil penggorengan secara berkali-kali diketahui menjadi salah satu limbah cair yang banyak dihasilkan di lingkungan rumah tangga. Masyarakat Desa Manjung seringkali membuang minyak jelantah secara cuma-cuma tanpa adanya pengelolaan terlebih dahulu. Limbah minyak jelantah yang tidak dikelola sebelum dibuang, dapat memberikan dampak buruk bagi lingkungan. Limbah minyak jelantah yang dibuang di selokan ataupun kantong plastik akan sulit diuraikan oleh alam dan dapat menimbulkan masalah-masalah baru. Minyak jelantah yang terbuang juga dapat menyumbat saluran air atau selokan sehingga memungkinkan bakteri berkembang biak dan menyebabkan pencemaran lingkungan. Padahal, minyak jelantah dapat dimanfaatkan menjadi salah satu bahan baku alternatif pembuatan lilin aroma terapi yang memiliki nilai estetika dan bersifat komersial.

Kegiatan ini diawali dengan sosialisasi terkait pengertian dari limbah rumah tangga yang diikuti oleh Ibu PKK Desa Manjung dan dilanjutkan dengan penyampaian dan praktik pengolahan limbah minyak jelantah. Sosialisasi ini memanfaatkan media promosi berupa pamflet yang menarik dan informatif. Di dalam pamflet tersebut berisi informasi mengenai cara mendaur ulang minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi agar tidak mencemari lingkungan.

Penanggung jawab dan ide program kerja ini yakni salah satu mahasiswi UB, Dhea Setiyawati yang juga menjadi pembicara dalam sosialisasi tersebut. Dhea mengatakan resah melihat banyaknya sisa minyak jelantah di dapur dan kebiasaan ibu-ibu membuang minyak jelantah secara sembarangan. Selain itu, bahan dan alat yang dibutuhkan pun mudah didapatkan dan tersedia di pasaran baik online maupun offline.

“Dalam proses pembuatan, kami juga memberikan kebebasan untuk ibu-ibu yang hadir dapat memilih warna untuk dimasukkan ke lilin yang nantinya akan dibawa pulang,” paparnya.

Adanya sosialisasi pada Ibu PKK ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan dampak buruk minyak jelantah bagi lingkungan sehingga tidak lagi membuang langsung minyak jelantah sembarangan melainkan mampu memanfaatkan limbah tersebut menjadi sesuatu yang bermanfaat dan memiliki nilai jual.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *