Ekonomi & BisnisGaya HidupNasionalPolitik

Dari Kelapa Gading hingga Kampung Nelayan, Bang Azran Rawat Kedekatan dengan Warga Jakarta Utara

JAKARTA — Bagi Anggota DPD RI/MPR RI Dapil DKI Jakarta Achmad Azran (Bang Azran), mengenal masyarakat tidak cukup hanya dengan mengetahui nama dan tempat tinggal mereka. Ada cerita kehidupan yang perlu didengar, ada persaudaraan yang harus dirawat, dan ada kepedulian yang perlu terus dihidupkan. Prinsip itulah yang membawanya menyambangi warga di sejumlah kawasan Jakarta Utara, mulai dari RT 008/04 Kelapa Gading Barat, Kalibaru, hingga kampung nelayan di Cilincing.

Bersama SIAAP (Sarana Informasi Achmad Azran Peduli), pria asli Betawi ini berupaya menjaga hubungan dengan masyarakat melalui pertemuan langsung yang sederhana, tetapi bermakna. Di tengah kesibukannya menjalankan amanah sebagai senator, Bang Azran tetap meluangkan waktu untuk menyapa warga dan mendengarkan cerita mereka dari dekat.

Baginya, masyarakat bukan sekadar angka dalam laporan atau nama dalam daftar aspirasi. Mereka adalah orang-orang dengan kehidupan, harapan, perjuangan, dan persoalan masing-masing. Karena itu, kehadiran di tengah masyarakat menjadi cara untuk memahami Jakarta bukan hanya dari gedung-gedung pemerintahan, melainkan juga dari lingkungan tempat warganya menjalani kehidupan sehari-hari.

“Setiap kali bertemu masyarakat, selalu ada cerita dan pelajaran yang saya dapatkan. Kita bisa belajar tentang keteguhan, kesabaran, dan bagaimana orang-orang menjalani kehidupan dengan segala tantangannya. Bagi saya, menjadi wakil daerah bukan hanya tentang menyampaikan aspirasi, tetapi juga tentang menjaga hubungan batin dengan masyarakat yang telah memberikan kepercayaan,” tutur Bang Azran.

Kunjungan ke sejumlah wilayah Jakarta Utara itu juga memperlihatkan keberagaman kehidupan masyarakat di ibu kota. Dari kawasan permukiman hingga kampung nelayan, setiap lingkungan memiliki karakter dan tantangan tersendiri. Namun, ada satu hal yang menyatukan mereka: keinginan untuk diperhatikan, didengar, dan diperlakukan sebagai bagian penting dari kehidupan kota.

Bang Azran meyakini, kedekatan antara wakil rakyat dan masyarakat tidak seharusnya dibangun hanya ketika ada agenda tertentu. Hubungan itu perlu dirawat secara konsisten melalui komunikasi yang terbuka, kepedulian yang tulus, serta kesediaan untuk hadir tanpa harus menunggu masyarakat menyampaikan keluhan.

“Jangan sampai kita hanya mengenal masyarakat ketika ada kepentingan. Silaturahmi harus terus dijaga dalam keadaan apa pun. Saya ingin hubungan ini tetap menjadi persaudaraan yang tumbuh dari ketulusan, bukan sekadar pertemuan yang selesai ketika acara berakhir,” katanya.

Ketua SIAAP Jakarta Utara, Nurlina, mengapresiasi konsistensi Bang Azran dalam menyambangi masyarakat di berbagai kawasan. Baginya, kehadiran seorang wakil rakyat di tengah masyarakat memiliki makna penting, terutama ketika dibangun atas dasar ketulusan, kepedulian, dan keinginan untuk menjaga persaudaraan.

“Bagi saya, Bang Azran bukan hanya hadir untuk bertemu warga, tetapi juga berusaha menjaga hubungan baik yang sudah terjalin. Beliau mau meluangkan waktu untuk menyapa masyarakat dari berbagai kalangan dan wilayah. Hal seperti ini penting, karena masyarakat ingin merasa dekat dengan wakilnya, ingin didengar, dan ingin tahu bahwa hubungan yang sudah dibangun tidak berhenti begitu saja,” ujar Nurlina.

Ia menilai, konsistensi Bang Azran menyambangi warga, mulai dari Kelapa Gading Barat, Kalibaru, hingga kampung nelayan di Cilincing, mencerminkan komitmen untuk terus merawat silaturahmi. Menurutnya, kedekatan seperti itu menjadi modal penting untuk menumbuhkan kepercayaan dan memperkuat semangat kebersamaan di tengah masyarakat Jakarta Utara.

Bagi Bang Azran, pengabdian tidak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Terkadang, kesediaan untuk datang, menyapa, mendengarkan, dan memahami persoalan orang lain merupakan langkah sederhana yang memiliki arti tersendiri bagi masyarakat.

Ia berharap, semangat kebersamaan dan kepedulian terus tumbuh di tengah kehidupan warga Jakarta Utara. Sebab, di balik kesibukan dan dinamika ibu kota, ada hubungan antarmanusia yang perlu tetap dijaga agar kehidupan bermasyarakat tidak kehilangan kehangatan dan rasa persaudaraan.

“Jakarta bukan hanya tentang pembangunan fisik dan gedung-gedung tinggi. Jakarta juga tentang manusia, tentang keluarga yang berjuang, tentang warga yang saling membantu, dan tentang persaudaraan yang harus terus kita rawat. Selama masih diberi amanah, saya ingin terus membuka ruang untuk bertemu dan mendengarkan masyarakat,” tutup Bang Azran. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *