PIT ISOI ke-22 Dorong Pemanfaatan Ilmu Kelautan untuk Ketahanan Pangan dan Energi Nasional
BALI — Penguatan ilmu pengetahuan dan teknologi kelautan menjadi salah satu kunci bagi Indonesia untuk memperkuat ketahanan pangan, mengembangkan sumber energi, dan meningkatkan nilai tambah ekonomi maritim. Pemanfaatan potensi laut perlu didukung riset, inovasi, serta kolaborasi antara ilmuwan, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat pesisir.
Pesan tersebut mengemuka dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) ke-22 Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia (ISOI) yang berlangsung di Bali pada 15–16 Oktober 2026. Forum ini mempertemukan sekitar 300 sarjana, peneliti, dosen, mahasiswa, dan praktisi kelautan yang membahas 170 makalah mengenai berbagai isu strategis, mulai dari perubahan iklim, pencemaran laut, karbon biru, keanekaragaman hayati, hingga ekonomi biru.
Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat Indroyono Soesilo, yang pernah menjabat Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman RI dan Ketua Umum ISOI periode 2010–2012, menekankan pentingnya menempatkan laut sebagai sumber kehidupan sekaligus penggerak pembangunan nasional.
“Laut adalah sumber kehidupan, pangan, energi, pekerjaan, dan masa depan bangsa,” ujar Indroyono.
Menurutnya, ilmu kelautan memiliki peran strategis dalam mendukung keselamatan nelayan, pembangunan kawasan pesisir, pemetaan potensi energi dan mineral, serta pengembangan perikanan dan budi daya berkelanjutan. Kajian oseanografi, geologi marin, dan bio-oseanografi menjadi landasan ilmiah untuk memahami dinamika laut sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya maritim.
Ada tiga agenda penting yang perlu diperkuat dalam pengembangan sektor kelautan, yakni ketahanan pangan, ketahanan energi, dan hilirisasi. Ketahanan pangan dapat didukung melalui pengembangan budi daya ikan, rumput laut, dan udang serta praktik penangkapan ikan yang berkelanjutan.
Di bidang energi, penelitian mengenai potensi arus, gelombang, pasang surut, dan angin laut perlu terus dikembangkan. Sementara itu, hilirisasi menjadi langkah penting untuk meningkatkan nilai ekonomi komoditas kelautan, termasuk mengolah rumput laut menjadi produk pangan, kosmetik, dan farmasi.
Tantangan perubahan iklim turut memperkuat kebutuhan terhadap riset kelautan. Fenomena El Niño dapat memicu kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta gagal panen. Perubahan kondisi laut juga berpengaruh terhadap persebaran ikan dan hasil tangkapan nelayan.
Karena itu, penguatan sistem pengamatan laut melalui satelit, pelampung pemantau, sensor, model prediksi, dan penelitian lapangan menjadi semakin penting. Informasi yang dihasilkan harus dapat dimanfaatkan secara praktis oleh nelayan, petani tambak, pemerintah daerah, dan masyarakat pesisir.
Dalam pembukaan PIT ISOI ke-22, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menyatakan terbuka terhadap masukan akademisi dan peneliti untuk memperkuat implementasi kebijakan ekonomi biru. Masukan berbasis ilmu pengetahuan diperlukan, terutama dalam perlindungan ekosistem laut, pengembangan budi daya perikanan, serta penguasaan teknologi dan inovasi guna meningkatkan daya saing produk perikanan Indonesia.
Forum tersebut juga memberikan ISOI Award 2026 kepada Dr. I Wayan Gede Hendrawan dari Universitas Udayana atas bidang pemodelan laut dan Dr. Rima Rachmayani dari Institut Teknologi Bandung (ITB) atas bidang geologi laut dan paleo-oseanografi.
PIT ISOI ke-22 diharapkan memperkuat sinergi antara kalangan akademisi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat pesisir. Kolaborasi ini diperlukan agar hasil penelitian tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi juga menjadi dasar pengambilan kebijakan, pengembangan industri, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Pengelolaan laut yang bertumpu pada ilmu pengetahuan dan prinsip keberlanjutan diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan, membuka peluang pengembangan energi, meningkatkan nilai tambah ekonomi, serta menjaga kesehatan ekosistem laut Indonesia bagi generasi mendatang.
