Dari Bandung ke Arizona: Sinergi ITB, Arizona State University, dan Arm untuk Kedaulatan Semikonduktor Indonesia
JAKARTA — Indonesia terus memperkuat langkah menuju kemandirian teknologi melalui pengembangan industri semikonduktor nasional. Upaya ini diwujudkan melalui penjajakan kerja sama strategis antara Institut Teknologi Bandung, Arizona State University, serta Arm Holdings.
Kerja sama tersebut mencakup penguatan kapasitas pendidikan, riset, dan pengembangan talenta semikonduktor nasional dengan menjadikan ITB sebagai salah satu pusat desain chip Indonesia. Kolaborasi yang sedang dijajaki meliputi integrasi kurikulum, program accelerated master, dual degree, hingga riset di bidang semikonduktor dan desain chip.
Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo, menyatakan bahwa Indonesia perlu mengambil peran lebih besar dalam rantai pasok semikonduktor global, tidak hanya sebagai pasar teknologi tetapi juga sebagai pengembang dan pemilik nilai tambah industri.
“Kemitraan ini menjadi langkah strategis untuk mempercepat lahirnya ekosistem semikonduktor nasional yang terintegrasi, mulai dari pendidikan, riset, hingga industri,”ujarnya.
ASU dikenal sebagai salah satu universitas dengan ekosistem semikonduktor terkuat di Amerika Serikat dan menjadi bagian penting implementasi Global CHIPS Act. Universitas tersebut didukung jaringan industri global seperti TSMC, Intel, Microchip Technology, dan Arm. Keberadaan Freeport-McMoRan yang berbasis di Phoenix dan telah lama beroperasi di Papua juga dinilai membuka peluang sinergi industri yang lebih luas antara Indonesia dan Arizona.
Di tingkat teknis, ITB telah meresmikan IC Design Center yang berfokus pada pengembangan desain sirkuit terpadu serta sumber daya manusia di bidang chip design. Pusat tersebut diarahkan untuk menghasilkan microchips bagi berbagai kebutuhan strategis, mulai dari infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi hingga perangkat medis.
Selain itu, ITB juga aktif melakukan kajian hilirisasi material, termasuk pengolahan silika menjadi wafer silikon yang relevan untuk industri photovoltaic dan semikonduktor nasional.
Dalam skema kerja sama ini, ASU akan memperkuat aspek pendidikan dan pengembangan ekosistem global, sementara Arm berkontribusi melalui penguasaan intellectual property desain prosesor.
Semikonduktor sendiri merupakan material utama dalam pembuatan chip, prosesor, memori, sensor, hingga panel surya yang menjadi inti berbagai perangkat digital modern.
Secara global, industri semikonduktor bernilai ratusan miliar dolar Amerika Serikat dan diproyeksikan menembus 1 triliun dolar AS pada 2030.
Di Arizona, investasi federal dan swasta bernilai miliaran dolar telah mengalir untuk pembangunan pabrik chip sehingga negara bagian tersebut berkembang menjadi salah satu pusat manufaktur semikonduktor utama di Amerika Serikat.
Sementara itu, Indonesia diproyeksikan memiliki pasar semikonduktor domestik senilai sekitar 2,79 miliar dolar Amerika Serikat pada 2025. Dengan pasar besar, tenaga kerja kompetitif, dan posisi strategis di Asia, Indonesia dinilai memiliki peluang memperkuat peran dalam rantai pasok global, khususnya pada sektor assembly, testing, packaging, hingga desain chip.
Kerja sama ITB, ASU, dan Arm diharapkan menjadi langkah awal penting dalam membangun fondasi industri semikonduktor nasional yang berdaya saing global sekaligus mendukung kedaulatan teknologi Indonesia di masa depan.(*)
