Pertanian

Panen Raya Petani Digital 4.0 di Kutai Timur, Kominfo Terapkan Teknologi Sensor Tanah dan Cuaca

KUTAI TIMUR – Kementerian Komunikasi dan Informatika melalui Direktorat Ekonomi Digital, Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika (APTIKA) merealisasikan program Digitalisasi Sektor Strategis Pertanian di Kabupaten Kutai Timur. Program ini bertujuan untuk meningkatkan adopsi teknologi digital khususnya bagi petani dengan menghadirkan nilai tambah berupa efisiensi penggunaan sumber daya dan peningkatan produktifitas hasil pertanian melalui penerapan teknologi sensor tanah dan cuaca.

Ketua Tim Transformasi Digital Pertanian, Maritim, dan Logistik, Ir. Wijayanto, MM mengatakan, program ini direalisasikan sejak bulan Mei lalu untuk lima kelompok tani di Desa Miau Baru, Kecamatan Kongbeng. “Saat ini memasuki musim panen pertama. Penerapan teknologi ini untuk memberikan nilai tambah bagi petani,” kata Wijayanto

Teknologi ini menurut Wijayanto sejalan dengan keinginan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang mendorong agar pertanian berkontribusi terhadap ketersediaan ketahanan pangan nasional.

“Dalam era industri 4.0, segala sektor tak lepas dari kemajuan teknologi. Teknologi mendorong peningkatan produktivitas dan memudahkan petani dalam mengembangkan budidaya pertanian dan usaha taninya di segala sektor,” ucap Wijayanto.

Ia melanjutkan, melalui pemanfaatan
teknologi digital sensor tanah dan cuaca, maka petani bisa mendapatkan banyak manfaat. Di antaranya informasi lingkungan pertanian secara real time seperti suhu udara, curah hujan, arah angin, kelembapan tanah, suhu tanah, PH tanah, hingga electrical conductivity.

“Parameter-parameter tersebut dibutuhkan untuk mengetahui kebutuhan tanaman secara lebih presisi, sehingga
mampu meningkatkan efisiensi dan produktifitas hasil panen,” kata Wijayanto.

Dalam kegiatan ini, petani diberikan pendampingan dalam hal penggunaan teknologi digital. Petani juga mendapatkan pendampingan dalam hal pengambilan baseline data pertanian setempat untuk bisa membantu memberikan rekomendasi tindakan yang diperlukan seperti jumlah air yang diperlukan tanaman, jenis pupuk yang dibutuhkan, hingga rekomendasi waktu pemupukan (Good Agriculture Practice).

“Program ini dimulai sejak pemasangan alat Internet of Things (IoT) sensor tanah dan cuaca. Selanjutnya, petani mendapatkan pendampingan agar dapat dengan mudah memanfaatkan teknologi digital ini,” papar Wijayanto.

Ia berharap Kementerian Kominfo sebagai fasilitator dalam penerapan sinergi integrasi pemanfaatan teknologi digital dengan berbagai pemangku kepentingan seperti Kementerian Pertanian dan Startup Digital sektor Pertanian mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan para petani di Indonesia.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *