Melalui Pemberdayaan Petani, Kementan Atasi Krisis Pangan Global
JAKARTA – Krisis pangan global yang diprediksi FAO sudah mulai terlihat. Tidak hanya itu, tingkat inflasi pun luar biasa. Meski demikian, Kementerian Pertanian optimistis bisa melaluinya meski harus kerja ekstra keras.
Salah satu strategi yang dijalankan Kementan adalah menggenjot pangan lokal dan memaksimalkan pemberdayaan petani.
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan optimistis bisa melalui hal tersebut. Sebab pertanian menjadi salah satu sektor yang mampu tumbuh positif.
“Sektor pertanian satu-satunya sektor yang mampu tumbuh menggeliat dan positif meski dalam kondisi pandemi Covid-19. Tidak itu saja, kita juga mencatat kenaikan ekspor di angka 40 persen. Kondisi ini akan terus kita pertahankan dan tingkatkan,” ujar Mentan SYL.
Selain itu, beliau menegaskan komitmennya dalam memantapkan penguatan komoditi lokal untuk kemandirian pangan demi meningkatkan kesejahteraan petani serta mengantisipasi krisis pangan global yang saat ini sedang melanda dunia.
Karenanya, Mentan Syahrul mengingatkan jajarannya, dalam dua tahun ke depan situasi pangan dalam negeri harus kembali stabil. Ia mengingatkan jajarannya untuk bekerja lebih serius dalam mengawal kegiatan produksi pangan di dalam negeri.
Terhadap komoditas impor yang terdampak krisis pangan, Syahrul mendorong agar komoditas lokal bisa mensubstitusinya.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, mengatakan dalam kondisi apapun pertanian tidak boleh bermasalah, pertanian tidak boleh berhenti.
Oleh sebab itu, petani dan penyuluh selalu turun ke lapangan untuk memastikan produksi pertanian bisa tetap berjalan.
“Penyedia sentral pangan telah melakukan restriksi, beberapa negara mengalami inflasi dan harga beberapa komoditas pangan yang melejit. Tidak itu saja, tingkat inflasi luar biasa. Kondisi saat ini menuntut kerja yang luar biasa,” ujar Dedi.
Namun Dedi optimistis seluruh insan pertanian bisa mengatasi permasalahan yang ada.
“Salah satu cara yakni menggenjot pangan lokal termasuk di sisi hilirisasi, yakni olahan pangan lokal,” ujarnya.
Proyek READSI dinilai sebagai proyek yang berhasil oleh Bappenas karena telah berhasil memberdayakan petani kecil, meningkatkan pendapatan dan produksi serta memperkuat kelembagaan di desa melalui program pemberdayaan yang terintegrasi termasuk kemitraan dengan lembaga swasta.
Selain itu IFAD menyampaikan READSI menjadi project dengan progress yang baik (performing well).
“Oleh karena itu, Program READSI ke depan diharapkan dapat lebih meningkatkan skalanya melalui pemberdayaan masyarakat secara Nasional, serta menjadi solusi dalam mengatasi krisis pangan global dengan cara menggenjot pangan lokal,” kata Dedi.
