Nasional

‎Selamatkan Nyawa, Hadirkan Tawa: Buku Chastry Meher Menautkan Kemanusiaan, Kesehatan, dan Pembangunan

JAKARTA — Buku berjudul Selamatkan Nyawa, Hadirkan Tawa karya Chastry Meher resmi diluncurkan dalam sebuah acara yang berlangsung di The Ritz-Carlton Jakarta, Rabu, 14 Januari 2026

‎Peluncuran buku ini menjadi ruang refleksi penting mengenai peran dunia medis dalam menjaga kehidupan manusia, tidak hanya melalui tindakan klinis, tetapi juga melalui empati, kemanusiaan, dan kebahagiaan sebagai bagian dari proses penyembuhan.

‎Buku ini tidak sekadar merekam perjalanan profesional seorang dokter, melainkan menghadirkan pendekatan humanis dalam praktik medis. Chastry Meher menempatkan pasien sebagai manusia seutuhnya, dengan martabat, emosi, dan kondisi mental yang sama pentingnya dengan aspek fisik penyakit.

‎Melalui kisah-kisah dan refleksi yang disajikan, buku ini mengajak pembaca memahami bahwa tugas dokter bukan hanya menyembuhkan penyakit, tetapi juga menjaga harapan dan rasa aman pasien.

‎Peluncuran buku ini mendapat apresiasi dari Burhanuddin Abdullah, tokoh nasional dan pemikir kebijakan publik yang saat ini menjabat sebagai Board of Advisors Prasasti (Prakarsa Persahabatan Indonesia) serta Ketua Dewan Pembina BACenter (Burhanuddin Abdullah Center). Dalam kapasitasnya tersebut, Burhanuddin Abdullah dikenal aktif memberikan catatan strategis dan evaluasi kritis terhadap perjalanan ekonomi nasional serta arah kebijakan publik Indonesia.

‎Burhanuddin Abdullah menilai Selamatkan Nyawa, Hadirkan Tawa sebagai sebuah kontribusi intelektual yang melampaui kegiatan literasi semata. Menurutnya, buku ini merupakan intervensi pemikiran yang penting dalam percakapan publik, khususnya dalam melihat hubungan antara kesehatan dan pembangunan nasional.

‎Dari perspektif ekonomi makro, kesehatan merupakan prasyarat utama bagi produktivitas nasional, stabilitas sosial, dan keberlanjutan pembangunan. Tidak ada stabilitas ekonomi, moneter, dan sosial yang dapat bertahan lama jika rakyatnya hidup dalam kondisi sakit-sakitan. Tidak ada pertumbuhan ekonomi yang bermakna jika masyarakat terus hidup dalam kecemasan, terutama kecemasan akan sakit dan biaya berobat.

‎Ia juga menegaskan bahwa judul buku ini mengandung pesan kebijakan yang sangat kuat. “Selamatkan Nyawa” merupakan mandat paling dasar dari eksistensi sebuah negara, sementara “Hadirkan Tawa” menjadi ukuran keberhasilan yang lebih mendalam karena tawa menandai pulihnya rasa aman, martabat, dan harapan. Dalam perspektif kebijakan publik, tawa dapat dimaknai sebagai simbol bahwa sistem kesehatan bekerja secara manusiawi dan efektif.

‎Dengan demikian, buku ini mengajak publik untuk menatap ulang cara memaknai pembangunan, bahwa melindungi kehidupan bukan hanya tujuan moral, melainkan fondasi rasional bagi stabilitas ekonomi dan keberlanjutan pembangunan.

‎Dalam sambutannya, Chastry Meher menyampaikan rasa terima kasih kepada Burhanuddin Abdullah sebagai mentor dan sosok yang memberi inspirasi intelektual dalam perjalanan kepenulisan buku ini. Ia menegaskan bahwa Selamatkan Nyawa, Hadirkan Tawa bukan sekadar peluncuran karya tulis, melainkan refleksi dunia medis yang menempatkan empati, kebahagiaan, dan kemanusiaan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari proses penyembuhan.

‎Chastry Meher juga menekankan bahwa kesehatan bukan hanya pilar sektor kesehatan itu sendiri, melainkan pilar penopang pembangunan bangsa. Negara tidak semata-mata diukur dari berapa banyak rumah sakit yang dibangun, tetapi dari sejauh mana masyarakat dapat dijangkau, ditangani, dan dilayani secara adil dan manusiawi.

‎Dalam pidatonya, ia menyoroti tantangan besar kesehatan nasional, salah satunya stunting, yang disebutnya sebagai bencana senyap bagi generasi Indonesia. Menurutnya, penanganan stunting membutuhkan pendekatan yang lebih kuat dan menyeluruh melalui kolaborasi lintas sektor, kehadiran negara secara utuh, serta komitmen bersama antara lembaga, profesi, dan kepemimpinan. Semua pihak harus saling menguatkan, bukan berjalan sendiri-sendiri.

‎Melalui buku ini, Chastry Meher mengajak agar isu kesehatan dibicarakan secara lebih luas dan inklusif, melibatkan berbagai lapisan masyarakat dan lintas profesi, termasuk petani dan komunitas akar rumput. Ia menggambarkan upaya ini sebagai sebuah simfoni kemanusiaan menuju Indonesia Emas, di mana kesehatan, empati, dan martabat manusia menjadi fondasi utama dalam pembangunan bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *